TEKNIK EKSPLORASI ZAT PEWARNA ALAM DARI TANAMAN DI SEKITAR KITA UNTUK PENCELUPAN BAHAN TEKSTIL

Posted on Updated on

TEKNIK EKSPLORASI ZAT PEWARNA ALAM DARI TANAMAN DI SEKITAR KITA UNTUK PENCELUPAN BAHAN TEKSTIL By:noor fitrihana

Menurut sumber diperolehnya zat warna tekstil digolongkan menjadi 2 yaitu: pertama, Zat Pewarna Alam (ZPA) yaitu zat warna yang berasal dari bahan-bahan alam pada umumnya dari hasil ekstrak tumbuhan atau hewan. Kedua, Zat Pewarna Sintesis (ZPS) yaitu Zat warna buatan atau sintesis dibuat dengan reaksi kimia dengan bahan dasar ter arang batu bara atau minyak bumi yang merupakan hasil senyawa turunan hidrokarbon aromatik seperti benzena, naftalena dan antrasena. (Isminingsih, 1978).

Pada awalnya proses pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam. Namun, seiring kemajuan teknologi dengan ditemukannya zat warna sintetis untuk tekstil maka semakin terkikislah penggunaan zat warna alam. Keunggulan zat warna sintetis adalah lebih mudah diperoleh , ketersediaan warna terjamin, jenis warna bermacam macam, dan lebih praktis dalam penggunaannya Meskipun dewasa ini penggunaan zat warna alam telah tergeser oleh keberadaan zat warna sintesis namun penggunaan zat warna alam yang merupakan kekayaan budaya warisan nenek moyang masih tetap dijaga keberadaannya khususnya pada proses pembatikan dan perancangan busana. Rancangan busana maupun kain batik yang menggunakan zat warna alam memiliki nilai jual atau nilai ekonomi yang tinggi karena memiliki nilai seni dan warna khas, ramah lingkungan sehingga berkesan etnik dan eksklusif. Dalam tulisan ini akan dijelaskan teknik eksplorasi zat warna alam dari tanaman di sekitar kita sebagai upaya pemanfaatan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah sebagai salah satu upaya pelestarian budaya.

A. Zat Warna Alam untuk Bahan Tekstil

Zat warna alam untuk bahan tekstil pada umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Pengrajin-pengrajin batik telah banyak mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai bahan tekstil beberapa diantaranya adalah : daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tingi (Ceriops candolleana arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (Curcuma), teh (The), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), daun jambu biji (Psidium guajava). (Sewan Susanto,1973).

Bahan tekstil yang diwarnai dengan zat warna alam adalah bahan-bahan yang berasal dari serat alam contohnya sutera,wol dan kapas (katun). Bahan-bahan dari serat sintetis seperti polyester , nilon dan lainnya tidak memiliki afinitas atau daya tarik terhadap zat warna alam sehingga bahan-bahan ini sulit terwarnai dengan zat warna alam. Bahan dari sutera pada umumnya memiliki afinitas paling bagus terhadap zat warna alam dibandingkan dengan bahan dari kapas.

Salah satu kendala pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam adalah ketersediaan variasi warnanya sangat terbatas dan ketersediaan bahannya yang tidak siap pakai sehingga diperlukan proses-proses khusus untuk dapat dijadikan larutan pewarna tekstil. Oleh karena itu zat warna alam dianggap kurang praktis penggunaannya. Namun dibalik kekurangannya tersebut zat warna alam memiliki potensi pasar yang tinggi sebagai komoditas unggulan produk Indonesia memasuki pasar global dengan daya tarik pada karakteristik yang unik, etnik dan eksklusif. Untuk itu, sebagai upaya mengangkat kembali penggunaan zat warna alam untuk tekstil maka perlu dilakukan pengembangan zat warna alam dengan melakukan eksplorasi sumber- sumber zat warna alam dari potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah. Eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui secara kualitatif warna yang dihasilkan oleh berbagai tanaman di sekitar kita untuk pencelupan tekstil. Dengan demikian hasilnya dapat semakin memperkaya jenis –jenis tanaman sumber pewarna alam sehingga ketersediaan zat warna alam selalu terjaga dan variasi warna yang dihasilkan semakin beragam. Eksplorasi zat warna alam ini bisa diawali dari memilih berbagai jenis tanaman yang ada di sekitar kita baik dari bagian daun, bunga, batang, kulit ataupun akar . Sebagai indikasi awal, tanaman yang kita pilih sebagai bahan pembuat zat pewarna alam adalah bagian tanaman –tanaman yang berwarna atau jika bagian tanaman itu digoreskan ke permukaan putih meninggalkan bekas/goresan berwarna. Pembuatan zat warna alam untuk pewarnaan bahan tekstil dapat dilakukan menggunakan teknologi dan peralatan sederhana.

B. Eksplorasi Zat Warna Alam dan Teknik Pencelupannya

Menurut R.H.MJ. Lemmens dan N Wulijarni-Soetjipto (1999) sebagian besar warna dapat diperoleh dari produk tumbuhan, pada jaringan tumbuhan terdapat pigmen tumbuhan penimbul warna yang berbeda tergantung menurut struktur kimianya. Golongan pigmen tumbuhan dapat berbentuk klorofil, karotenoid, flovonoid dan kuinon. Untuk itu pigmen – pigmen alam tersebut perlu dieksplorasi dari jaringan atau organ tumbuhan dan dijadikan larutan zat warna alam untuk pencelupan bahan tekstil. Proses eksplorasi dilakukan dengan teknik ekstraksi dengan pelarut air.

Proses pembuatan larutan zat warna alam adalah proses untuk mengambil pigmen – pigmen penimbul warna yang berada di dalam tumbuhan baik terdapat pada daun, batang, buah, bunga, biji ataupun akar. Proses eksplorasi pengambilan pigmen zat warna alam disebut proses ekstraksi. Proses ektraksi ini dilakukan dengan merebus bahan dengan pelarut air. Bagian tumbuhan yang di ekstrak adalah bagian yang diindikasikan paling kuat/banyak memiliki pigmen warna misalnya bagian daun, batang, akar, kulit buah, biji ataupun buahnya. Untuk proses ekplorasi ini dibutuhkan bahan – sebagai berikut: 1). Kain katun (birkolin) dan sutera, 2) Ekstrak adalah bahan yang diambil dari bagian tanaman di sekitar kita yang ingin kita jadikan sumber pewarna alam seperti : daun pepaya, bunga sepatu, daun alpokat, kulit buah manggis, daun jati, kayu secang, biji makutodewo, daun ketela pohon, daun jambu biji ataupun jenis tanaman lainnya yang ingin kita eksplorasi 3) Bahan kimia yang digunakan adalah tunjung (FeSO4) , tawas, natrium karbonat/soda abu (Na2CO3) , kapur tohor (CaCO3), bahan ini dapat di dapatkan di toko-toko bahan kimia. Peralatan yang digunakan adalah timbangan, ember, panci, kompor, thermometer , pisau dan gunting. Proses ekplorasi dan pencelupan zat warna alam adalah sebagai berikut:

C. Proses Ekstraksi Zat Warna Alam

Dalam melakukan proses ekstraksi/pembuatan larutan zat warna alam perlu disesuaikan dengan berat bahan yang hendak diproses sehingga jumlah larutan zat warna alam yang dihasilkan dapat mencukupi untuk mencelup bahan tekstil. Banyaknya larutan zat warna alam yang diperlukan tergantung pada jumlah bahan tekstil yang akan diproses. Perbandingan larutan zat warna dengan bahan tekstil yang biasa digunakan adalah 1: 30. Misalnya berat bahan tekstil yang diproses 100 gram maka kebutuhan larutan zat warna alam adalah 3 liter. Beikut iniadalah langkah-langkah proses ekstraksi untuk mengeksplorasi zat pewarna alam dalam skala laboratorium:

1. Potong menjadi ukuran kecil – kecil bagian tanaman yang diinginkan misalnya: daun, batang , kulit atau buah. Bahan dapat dikeringkan dulu maupun langsung diekstrak. Ambil potongan tersebut seberat 500 gr.

2. Masukkan potongan-potongan tersebut ke dalam panci. Tambahkan air dengan perbandingan 1:10. Contohnya jika berat bahan yang diekstrak 500gr maka airnya 5 liter.

3. Rebus bahan hingga volume air menjadi setengahnya (2,5liter). Jika menghendaki larutan zat warna jadi lebih kental volume sisa perebusan bisa diperkecil misalnya menjadi sepertiganya. Sebagai indikasi bahwa pigmen warna yang ada dalam tumbuhan telah keluar ditunjukkan dengan air setelah perebusan menjadi berwarna. Jika larutan tetap bening berarti tanaman tersebut hampir dipastikan tidak mengandung pigmen warna.

4. Saring dengan kasa penyaring larutan hasil proses ekstraksi tersebut untuk memisahkan dengan sisa bahan yang diesktrak (residu). Larutan ekstrak hasil penyaringan ini disebut larutan zat warna alam. Setelah dingin larutan siap digunakan.

D. Persiapan Pencelupan Dengan Zat Warna Alam.

Sebelum dilakukan pencelupan dengan larutan zat warna alam pada kain katun dan sutera perlu dilakukan beberapa proses persiapan sebagai berikut:

1. Proses mordanting

Bahan tekstil yang hendak diwarna harus diproses mordanting terlebih dahulu. Proses mordanting ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya tarik zat warna alam terhadap bahan tekstil serta berguna untuk menghasilkan kerataan dan ketajaman warna yang baik. Proses mordanting dilakukan sebagai berikut:

a. Potong bahan tekstil sebagai sample untuk diwarna dengan ukuran 10 X 10 Cm atau sesuai keinginan sebanyak tiga lembar.

b Rendam bahan tekstil yang akan diwarnai dalam larutan 2gr/liter sabun netral (sabun sunlight batangan) atau TRO (Turkey Red Oil). Artinya setiap 1 liter air yang digunakan ditambahkan 2 gram sabun netral atau TRO. Perendaman dilakukan selama 2 jam. Bisa juga direndam selama semalam. Setelah itu bahan dicuci dan dianginkan.

c. Untuk bahan kain kapas : Buat larutan yang mengandung 8 gram tawas dan 2 gram soda abu (Na2CO3) dalam setiap 1 liter air yang digunakan. Aduk hingga larut. Rebus larutan hingga mendidih kemudian masukkan bahan kapas dan direbus selama 1jam. Setelah itu matikan api dan kain kapas dibiarkan terendam dalam larutan selama semalam. Setelah direndam semalaman dalam larutan tersebut, kain diangkat dan dibilas (jangan diperas) lalu dikeringkan dan disetrika. Kain kapas tersebut siap dicelup

d. Untuk bahan sutera at: Buat larutan yang mengandung 8 gram tawas dalam setiap 1 liter air yang digunakan, aduk hingga larut. Panaskan larutan hingga 60ºC kemudian masukkan bahan sutera atau wol dan proses selama 1 jam dengan suhu larutan dijaga konstan (40 – 60ºC ). Setelah itu hentikan pemanasan dan kain dibiarkan terendam dalam larutan selama semalam. Setelah direndam semalaman dalam larutan tersebut, kain diangkat dan dibilas (jangan diperas) lalu dikeringkan dan disetrika. Kain sutera yang telah dimordanting tersebut siap dicelup dengan larutan zat warna alam.

2. Pembuatan larutan fixer (pengunci warna)

Pada proses pencelupan bahan tekstil dengan zat warna alam dibutuhkan proses fiksasi (fixer) yaitu proses penguncian warna setelah bahan dicelup dengan zat warna alam agar warna memiliki ketahanan luntur yang baik. Ada 3 jenis larutan fixer yang biasa digunakan yaitu tunjung (FeSO4), tawas, atau kapur tohor (CaCO3).. Untuk itu sebelum melakukan pencelupan kita perlu menyiapkan larutan fixer terlebih dengan dengan cara :

a. Larutan fixer tunjung : Larutkan 50 gram tunjung dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya.

b. Larutan fixer Tawas : Larutkan 50 gram tawas dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya.

c. Larutan fixer Kapur tohor : Larutkan 50 gram kapur tohor dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya.

3. Proses Pencelupan Dengan Zat Warna Alam

Setelah bahan dimordanting dan larutan fixer siap maka proses pencelupan bahan tekstil dapat segera dilakukan dengan jalan sebagai berikut:

1. Siapkan larutan zat warna alam hasil proses ekstraksi dalam tempat pencelupan .

2. Masukkan bahan tekstil yang telah dimordanting kedalam larutan zat warna alam dan diproses pencelupan selama 15 – 30 menit.

3. Masukkan bahan kedalam larutan fixer bisa dipilih salah satu antara tunjung , tawas atau kapur tohor. Bahan diproses dalam larutan fixer selama 10 menit. Untuk mengetahui perbedaan warna yang dihasilkan oleh masing – masing larutan fixer maka proses 3 lembar kain pada larutan zat warna alam setelah itu ambil 1 lembar difixer pada larutan tunjung, 1 lembar pada larutan tawas dan satunya lagi pada larutan kapur tohor.

4. Bilas dan cuci bahan lalu keringkan. Bahan telah selesai diwarnai dengan larutan zat warna alam.

5. Amati warna yang dihasilkan dan perbedaan warna pada bahan tekstil setelah difixer dengan masing-masing larutan fixer. Pada umumnya hampir semua jenis zat warna alam mampu mewarnai bahan dari sutera dengan baik , namun tidak demikian dengan bahan dari kapas katun. (berdasar beberapa eksperimen yang telah dilakukan penulis).

6. Lakukan pengujian-pengujian kualitas yang diperlukan (ketahanan luntur warna dan lainnya

7. Simpulkan potensi tanaman yang diproses (diekstrak) sebagai sumber zat pewarna alam untuk mewarnai bahan tekstil.

Dengan banyak melakukan eksperimentasi untuk mengeksplorasi kandungan pigmen warna dalam tanaman maka akan sangat memperkaya jenis zat warna alam yang kita miliki. Eksperimen dapat dimulai dari memilih jenis tanaman di lingkungan sekitar anda yang sekiranya belum dimanfaatkan untuk kepentingan lain (untuk obat,tanman hias dan lainnya). Potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah merupakan faktor pendukung yang dapat dimanfaatkan. Produk tekstil dengan zat pewarna alam ini banyak disukai karena keunggulannya selain ramah lingkungan juga warna – warna yang dihasilkan sangat khas dan etnik sehingga memiliki nilai jual yang tinggi . Produk tekstil dengan zat warna alam dapat dijadikan potensi unggulan produk daerah di pasar global. Untuk pengembangan penggunaan zat warna alam perlu dilakukan melalui penelitian –penelitian untuk mendapatkan hasil yang semakin baik.

diterbitkan di majalah WUNY: LPM UNY

About these ads

32 thoughts on “TEKNIK EKSPLORASI ZAT PEWARNA ALAM DARI TANAMAN DI SEKITAR KITA UNTUK PENCELUPAN BAHAN TEKSTIL

    herfina said:
    April 4, 2008 pukul 10:50 am

    kalo kulit buah manggis sebagai pewarna makanan apakah pernah diteliti sebelumnya? Terim kasih

    ardi said:
    April 27, 2008 pukul 2:38 pm

    nama saya Ardi.

    saya mau bertanya apakah ada solusi untuk pewarnaan kain katun dan bagaimana pula prosesnya
    terima kasih.

    danz said:
    Mei 12, 2008 pukul 1:00 pm

    dimana kah mendapatkan,data-data kebutuhan untuk pembuatan Zat warna alam, sebagai contoh pewarna alam dari mahoni bagaimana sturktur molekul dari mahoni dan ikatan yang terjadi sehingga zat warna bereaksi??tolong ya…

    didin syarifudin said:
    Agustus 1, 2008 pukul 1:36 pm

    Thanks Artikelnya…

    Didin

    Noor Fitrihana responded:
    Agustus 14, 2008 pukul 6:12 pm

    Kulit manggis sudah pernah diteliti. Mahoni juga sudah pernah diteliti. Anda bisa hubungi kami by email. Proses untuk katun sama pada pewarnaan dengan kain sutera namun tidak semua zat warna alam punya afinitas yang baik pada kain katun. Paling bagus pewarnaan pada bahan sutera. Berdasar penglaman kami selalau berhasil dengan baik pada kian sutera namun terkadang tidak berhasil pada kain katun (setelah dicuci luntur)

    indri said:
    Desember 2, 2008 pukul 12:28 pm

    artikel ini banyak membantu aku buat bikin karya ilmiah…. tapi,,, masalahnya aku agak kecewa buat ngewarnai katun yg katany malah lluntur…. terus gimana biar kagak lunturr??? jawab yeah….

    noor responded:
    Desember 2, 2008 pukul 12:58 pm

    Dear Ndrie
    email anda kok tidak aktif…..bounching
    Beberapa sumber pewarna alam dari tanaman sekitar memang kurang mampu mewarnai katun. Supaya tidak luntur coba dikeringkan agak lama/didiamkan beberapa hari dulu kemudian baru dilorod kalo dibatik.
    gunakan sumber bahan warna ini dikatun dijamin tidak luntur
    secang
    jolawe
    tingi
    tegeran
    jambal
    pasta indigo
    urang-aring

    trims

    Dearman said:
    Desember 13, 2008 pukul 9:03 am

    Mohon bantuannya; Saya sedang mencari bentuk tumbuhan ini “INDIGO” atau NILA dlm bhs Jawan “TARUM/TOM”. Kalau boleh mohon diberi keterangan “Apakah pabrik pengolahan untuk menjadi pewarna dari tanaman ini terdapat di Sumatera?? Kalau ada didaerah mana?

    Untuk Jawabannya saya ucapkan terima kasih.

    ranggaswara said:
    Desember 29, 2008 pukul 5:52 pm

    mau nanya tenntng zat pewarna yang ada di stoberi? jenis pewarnanya brupa apa? tahan berapa lama? sya lagi sedang buat makalah ilmiah tentang pewarna di stroberi
    makasih

    adhie said:
    Januari 3, 2009 pukul 4:01 pm

    aslm, gini mas saya mahasiswa skrg lagi neliti zat warna alam, tapi bingung nyari zat warna alami standarnya, bisa nggak ngasih tau, lengkapi dengan nama kimia dan panjang gelombang maksimum serapnnya. thankk’s

    sancaya rini said:
    Januari 3, 2009 pukul 7:29 pm

    Saya setuju sekali mas Noor…!!
    Kita dianugerahi ALLAH swt kekayaan sumber daya hayati yang tak ternilai harganya.Kita saja yang kurang tanggap dan kurang cakap. Khusus di sumber pewarna alam, saya mendapatkan banyak kejutan dari hasil coba2 apa yang ada disekeliling rumah saya. Sekarang sedang musim rambutan.. tapi karena sudah memasuki musim hujan dan angin kencang…banyak pentil2 yang gogrok. Daripada dibuangi.. saya coba godog..Subhanallah..warna tik- cantik dan kuat. Cuma… gimana ya caranya supaya kalau pas nggak musim rambutan saya masih tetap bisa bikin pewarnaan dari rambutan pentil ?? Disimpan agak lama warna bisa berubah. Tolong dicarikan jalan keluarnya…
    suwun
    sancaya rini

    syamsiyar said:
    Maret 28, 2009 pukul 6:15 am

    Saya sangat tertarik dengan pewarnaan Alami Sutera , kami ingin menanyakan dimana bisa belajar pewarnaan alami tersebut karena kebetulan tempat kami adalah penghasil kain sutera tetapi masih menggunakan pewarna kimiawi.utamanya dengan isu lingkungan yang sekarang ini lagi hangat pewarnaan alami saya kira akan sangat membantu.

    Alfonsa horeng said:
    April 22, 2009 pukul 9:06 am

    Tolong jika ada info ttg workshop atau training dsj, ke emailku alfonsayang01@yahoo.com
    Aku penenun – Flores http://www.alfonsadeflores.com, situs warna alam pd tenun
    TKS

    lutfi said:
    April 25, 2009 pukul 1:08 am

    D.h

    Mohon resep atau takaran untuk pewarnaan menggunakan nafthol . berapa gram kami harus menggunakan garam dan nafthol dan custic nya untuk 1 meter kain cotton poliester. terima kasih

    luciana said:
    Desember 11, 2009 pukul 9:59 pm

    Hallo, para pencinta batik, saya butuh bantuan nich. Saya sudah membatik (sudah di klowong), lalu kain saya celupkan di ekstrak warna dari kulit pohon. Warnanya cantik sekali. Saya mau nembok dengan warna kedua, tapi warna dasarnya yang cantik tersebut ingin saya pertahankan. Bagaimana caranya dan kapan kain tersebut harus dicelupkan ke tawas atau kapur tohor? Apakah setiap kali setelah saya celup ke ekstrak warna? Banyak terima kasih untuk masukannya.

    Arteducationx's Blog said:
    Januari 13, 2010 pukul 7:41 pm

    [...] Diarsipkan di bawah: Teknik — arteducationx @ 15:46 TEKNIK EKSPLORASI ZAT PEWARNA ALAM DARI TANAMAN UNTUK PENCELUPAN BAHAN TEKSTIL [...]

    vian said:
    Januari 26, 2010 pukul 7:16 pm

    saya tertarik sama artikel anda mengenai pewarna alami…tapi kira2 warna itu cepat pudar atau ga ya kalo di pake buat bikin batik

    adinda said:
    Maret 13, 2010 pukul 8:09 pm

    saya mau tau tentang uji ketahanan luntur warna-warna alami ini bila d rendam atau di cuci dengan deterjen. kira-kira bagaimana ya????

    yudho said:
    Mei 30, 2010 pukul 12:39 am

    kami mencari bahan2 utk pewarna alami dari tumbuhan utk kain,tolong klo ada bahannya kami siap membeli .hubungi di arygong09@yahoo.co.id atau 0274-3035490. saya tunggu penawaran anda. trmksh

    elly said:
    September 28, 2010 pukul 9:48 am

    Ass. Pak Noor, sy rencana mw meneliti salah satu jenis kulit kayu yg ada di daerah saya sbg bahan pewarna alami (rncn utk tekstil), saat ini sy terkendala dengan literatur2 yang menunjang tentang metode ekstraksi hingga pengujian. Kiranya bapak bs membantu sy…tentang rujukan literatur yang mendukung. Terima kasih….

    Iskandar said:
    November 18, 2010 pukul 10:25 pm

    artikel yg sangat bermanfaat.
    sekalian mau nanya… boleh ya
    adakah zat pewarna putih untuk bahan katun (selain titanium dioksida)?
    makasih

    Adiyar said:
    Agustus 27, 2011 pukul 4:45 am

    Assalamualaikum

    terima kasih sekali atas artikel ini, ini sangat bermanfaat bagi kita semua. saya ada pertanyaan tentang mewarnai batik, ibu saya seorang pembatik yang baru belajar, dan dia kesulitan untuk mewarnai batik, karena tiap kali dalam proses mewarnai selalu luntur. apa yang harus saya lakukan untuk mengunci warna supaya tidak luntur.
    terima kasih atas bantuannya.

    i'in said:
    Januari 5, 2012 pukul 2:03 pm

    mau tanya ni……
    pada bagian apa tanaman yang paling bagus untuk dijadikan sebagai pewarna alami? batang, daun, buah, or kulit? n sekaligus cara ekstraksinya ya.
    terimakasih sebelumnya…

    Eko susetyo k, dr said:
    Januari 21, 2012 pukul 9:01 pm

    Sangat bagus boleh konsultasi tentang pewarna alam ini lebih lanjut?
    Teri
    A kasih s
    Dan salam

    Batik Giriloyo-Warna Alam said:
    Maret 5, 2012 pukul 9:56 am

    Nanya Prof…>>
    Faktor apa yg mempengaruhi kegagalan dalam proses pewarnaan dg Indigofera?
    Terimaksih.. Salam

    admin said:
    Maret 5, 2012 pukul 9:13 pm

    @all
    Dalam proses pewarnaan dibutuhkan
    1. Kesesuaian zat warna dengan bahan tekstil
    2. Waktu fiksasi yang cukup agar pewarna melekat kuat padabahan
    3. obat bantu yang mamapu mengkondisikan terjadinya ikatan yang kuat anatara pewarna dengan bahan tekstil
    4. Suhu proses untuk mempercepat terjadinya ikatan pewarna dan serat

    titik titikkritis pada pewarn alami adalah kemampuan pewarna mewarnai bahan (kesesuaian),… waktu fiksasi yang kurang lama……obat bantu dan zat fixie yang kurang optimal bekerja..suhm pada titip optimum

    Taufik Eva said:
    Maret 26, 2012 pukul 11:13 am

    Terima kasih pak artikelnya, ini yang saya cari-cari selama ini, saya pengrajin batik Jambi di Jambi, saya juga mohon izin mengcopy artikel ini, mudah-mudahan ini menjadi amal bagi bapak. sekali lagi terima kasih. Taufik Eva Batik Jambi Ariny.

    miftah said:
    Agustus 1, 2012 pukul 12:53 am

    kalau cara ekstaksi jadi bubuk gmana ya,
    mohon pencerahannya.
    thax.

    KiraKira ChinChin said:
    Desember 8, 2012 pukul 10:54 pm

    Dear Admin, disini bahan bakunya dari alam, tapi ada pencampuran dengan beberapa bahan kimia. adakah cara lain untuk merekatkan warna tanpa menggunakan bahan kimia? mengingat banyaknya limbah kimia semakin banyak dan merusak lingkungan. pls adv thanks

    tyas said:
    Februari 18, 2013 pukul 4:34 am

    MAKASIH YA MAS ATAS INFONYA SANGAT BERMANFAAT SEKALI BAGI SAYA, SY JADI TERINSPIRASI UNTUK MEMBUAT KARYA ILMIAH DARI SERAT ALAM, SEBELOMNYA BOLEH GAK MINTA DAFTAR PEWARNA ALAM YANG TELAH DITELITI, TRIMS UNTUK BALASANNYA, KALAU TIDAK KEBERATAN KIRIM VIA EMAIL AJA YA, e_tyazt@yahoo.com

    desiRahma (@deeSirahma) said:
    Mei 13, 2013 pukul 3:38 pm

    pak, saya ingin bertanya. apakah bapak punya referensi mengenai penelitian tentang tumbuhan yang berpotensi menghasilkan warna merah dan hijau?kalau tidak keberatan mi=ohon dikirim via email deszicion@gmail.com , terimakasih banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s