Upaya Mengurangi Resiko Muskuloskeletal

Posted on

Upaya Mengurangi Resiko Muskuloskeletal

oleh: noor Fitrihana

Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan sakit, nyeri, pegal-pegal dan lainnya pada sistem otot (muskuloskeletal) seperti tendon, pembuluh darah, sendi, tulang, syaraf dan lainnya yang disebabkan oleh aktivitas kerja. Keluhan muskuloskeletal sering juga dinamakan MSD (Musculoskeletal Disorder), RSI (Repetitive Strain Injuries), CTD (Cumulative Trauma Disorders) dan RMI (Repetitive Motion Injury). 

Keluhan MSD yang sering timbul pada pekerja industri adalah nyeri punggung, nyeri leher, nyeri pada pergelangan tangan, siku dan kaki. Ada 4 faktor yang dapat meningkatkan timbulnya MSD yaitu posture yang tidak alamiah, tenaga yang berlebihan, pengulangan berkali-kali, dan lamanya waktu kerja (OHSCOs, 2007). Level MSD dari yang paling ringan hingga yang berat akan menggangu konsentrasi dalam bekerja, menimbulkan kelelahan dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas.

Untuk itu diperlukan suatu upaya pencegahan dan minimalisasi timbulnya MSD di lingkungan kerja. Pencegahan terhdap MSD akan memperoleh manfaat berupa, penghematan biaya, meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja serta meningkatkan kesehatan, kesejahteraan dna kepuasan kerja karyawan (OHSCOs, 2007).

OHSCOs (2007) memberikan panduan tahapan untuk melakukan program pencegahan MSD di lingkungan kerjayang meliputi:

  1. Membangun pondasi menuju sukses

Untuk melakukan program pencegahan MSD diperlukan penetapan komitmen oleh manajemen, menentukan tujuan pelaksanaan, sasaran dan ruang lingkup pelaksanaan, membuat aturan dan tanggung jawab pada seluruh lapisan karyawan, membentuk komite pelaksana dan bergabung dengan organisasi kesehatan dan keselamatan kerja.

  1. Mengidentifikasi faktor -faktor yang menimbulkan MSD dan faktor lainnya yang terkait.

Proses identifikasi dilakukan dengan menanyakan kepada pekerja gangaguan MSD yang dialami, menanyakan jenis tugas yang sulit dan menyebabkan ketidaknyamanan, mengevaluasi catatan kecelakaan kerja yang pernah terjadi, mengamati jenis pekerjaan yang membutuhkan waktu yang lama, pengulangan, tenaga dan postur kerja serta menggunakan instrument-instrumen pencegahan MSD

  1. Lakukan evaluasi faktor-faktor yang menyebabkan MSD

Evaluasi faktor-faktor yang telah ditemukan dengan melibatkan pekerja untuk mencari akar masalahnya dan buat kesepakatan untuk melakukan tindakan perbaikan.

  1. Memilih dan melaksanakan program perbaikan untuk pencegahan MSD

Lakukan perubahan metode kerja, menata ulang peralatan dan area kerja untuk mengurangi resiko MSD, Libatkan karyawan untuk memberikan ide-ide agar system kerja menajdi lebih baik dan gunakan ide yang dianggap baik, hati hati memilih solusi yang pertama kali karena solusi tersebut disebut desain yang ergonomis.

  1. Evaluasi kesuksesan penerapannya dan lakukan peningkatan secara berkelanjutan

Tanyakan kepada pekerja apakah perubahan yang dilakukan memberikan dampak yang lebih baik dan memberika rasa nayaman dalam bekerja. Tingkatkan dan ulangi penerapan setelah 3 -6 bulan.

  1. Menyebarluaskan kesuksesan pencegahan MSD

Umumkan hasil yang telah dicapai dan usaha-usaha yang telah dilakukan dalam pencegahan MSD kepada seluruh pekerja dan semua departemen

About these ads

10 thoughts on “Upaya Mengurangi Resiko Muskuloskeletal

    ARIES BUDI said:
    September 4, 2008 pukul 2:03 pm

    ,,,Apa sih perbedaan antara MSD dengan CTDs??
    bagaimana cara mengetahui seseorang tersebut terkena CTDs?Apakah bisa dengan penyebaran checlist,about gejala ergonomic, terus pengamatan posisi badan, dan checklist tentang area dan pekerjaaan??
    klo bisa dengan cara tersebut, terus setelah itu,,bagaimana menindaklanjuti hasil checlist tersebut?Diolah ataupun dianalisis dengan metode apa?sehinga,data tersebut benar”Valid??
    Terima kasih,,,

    b4d3 consultants said:
    September 4, 2008 pukul 2:32 pm

    MSD dan CTD adalah hal yang sama yaitu keluhan pada otot akibat yang ditimbulkan karena kativitas kerja manusia baik karena pengualangan pekerjaan, posiis kerja yang tidak baik, tenaga yang berlebihan dan kontak dengan benda lain.banyak tool ergonomi yang bisa digunakan.
    pengukurannya yang sederhana menggunakan cheklist yang biasa dilakukan adalah dengan peta tubuh atau Nordic Body Map tempat bagian terjadinya keluhan. Banyak tool lainnya berbasis komputer untuk analisa ini. bentuk postur dan kemungkinan cedera juga bisa dianlisis dengan metode RULA, REBA OWAS. Tingkat keluhan nyeri umumnya dikategorikan ringan sedang dan berat. Hasil cheklist dikorelasikan dengan evaluasi lingkungan fisik, kimia dan biologi yang tercakup dalam evaluasi ergonomi. kemudian dilakukan perbaikan lingkungan dan diukur ulang tingkat keluhannya.
    analisis data bisa menggunkan berbagai teknik analisi statistik sesuai parameter/variable yang ingin diketahui
    banyak penelitian membuktikan program ergonomi mamapu menurunkan tingkat keluhan muskuloskeletal.

    Dy said:
    Oktober 9, 2008 pukul 7:09 am

    Apakah strain dan sprain dikatagorikan sebagai MSDs juga?

    gurdani said:
    November 21, 2008 pukul 2:57 pm

    kalo keluhan muskuloskeletal pada perawat bisa ndak ya dikurangi dengan mengadakan pelatihan penanganan pasien yang ergonomis?

    sasuke said:
    Februari 12, 2010 pukul 10:20 pm

    kalo pengen mmpelajari MSds kaitanya dengan, durasi, frekuensi kerja, kira2 yg tepat baca buku apa ya??hehe
    terima kasih

    erik said:
    Februari 17, 2010 pukul 12:25 pm

    mau tanya bagaimana cara menganalisis CTDs? dengan metode apa yg lebih tepat(RULA, REBA, QEC, OCRA dll)?tolong jelaskan perbedaan antara metode satu dngn yg lain?
    apa karakteristik perbedaan tiap2 metode diatas?
    mohon bantuanya…

    tirza said:
    Maret 11, 2010 pukul 1:26 pm

    maaf saya ingin menanggapi…
    gunardi: OSHA telah menerbitkan ergonomics:guidelines for nursing homes, disitu ada cara2 pengangkatan pasien dgn cra yg ergonomis…bahkan di luar negeri untuk pengangkatan pasien sudah ada suatu produk alat yang ergonomis, sehinggga g jadi beban ergonomi buat perawat…
    SAsuke: coba baca buku the occupational environment-its evaluation and control, terbitan AIHA[american industrial hygiene association] press…bukunya lengkap bgt ttg ergonomi dan risk assessmentnya juga, bahkan sampai controlnya jg…
    erik: kalo RULA itu buat extremitas atas…(CTDs bsa pake tools itu), REBA buat keseluruhan…contoh, pengen melakukan ergonomic risk assessment pada suatu pekerjaan yg melibatkan seluruh anggota tubuh, pake itu…

    Nova said:
    Maret 12, 2010 pukul 9:22 am

    Saya bekerja di industri garment dan ingin menerapkan ergonomi di departemen produksi. Dari pengamatan yang sering saya lakukan di lapangan banyak operator bagian sewing yang mengalami keluhan musculosceletal disorder. Saya perlu teknik dan metode pengkuran kerja yang efektif untuk menganalisa pengaruh kerja yang tidak ergonomis dan penanggulangan masalah tersebut. Jika Anda punya info tentang hal tersebut tolong kirimkan ke email saya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

    dany'11 said:
    Agustus 22, 2011 pukul 12:12 am

    maaf,
    saya ingin menanyakan mengenai sumbernya, (OHSCOs 2007)..
    boleh saya tau artikelnya, judulnya, pengarang dan penerbitnya?
    sekiranya memungkinkan mohon dikirim ke alamat e-mail saya
    sya ingin menambah referensi., mohon bantuannya
    makasih banyak sebelumnya

    yessi said:
    Maret 2, 2012 pukul 10:14 am

    Saya ingin menanyakan apa kelebihan dan kekurangan masing2 tool tersebut dalam menilai resiko ergonomi , misalnya RULA, REBA, BRIEF survey dsbnya. Mohon bantuannya buat penambahan referensi saya . Kalo tidak keberatan tolong di kirim ke email saya. Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s