Ergonomi Kerja

Bekerja di depan komputer yang ergonomis (noor fitrihana)

Posted on

Berikut adalah posisi kerja dan stasiun kerja yang ergonomis untuk bekerja di depan komputer dan pencahayaan diatur agar tidak menimbulkan efek silau pada mata maupun layar monitor.

Set-up Workstation untuk posisi kerja berdiri (noor fitrihana

Posted on

Pengaturan tinggi meja kerja pada posisi kerja berdiri (Sumber:Workplace Health, Safety and Compensation Commission of New Brunswick) dan berikut adalah contoh real di lingkungan kerja (California Department of Industrial Relations)

Cara Angkat-angkut yang baik

Posted on Updated on

Contoh cara angkat-angkut yang benar dan ergonomis (sumber: California Department of Industrial Relations)

Set Up Your Workstation

Posted on Updated on

Berikut adalah contoh stasiun kerja yang ergonomis untuk posisi kerja duduk (sumber:BOSCH)

Merancang program Intervensi Ergonomi (oleh: noor fitrihana)

Posted on Updated on

Untuk melaksanakan program ergonomi/intervensi ergonomi di perusahaan/organisasi maka diperlukan 3 langkah awal untuk menuju kesuksesan  yang meliputi

1. Membangun komitmen dari manajemen

2. Membentuk Team ergonomi/ EHS (Ergonomic, Health and Safety)

3. Mengadakan pelatihan ergonomi untuk mendorong adanya partisispasi dari seluruh karyawan

Pelaksanaan intervensi ergonomi disarankan melibatkan karyawan dari level paling bawah hingga Top manajemen sejak perancangan hingga implementasi (Partisipatori ergonomi). Perancangan program ergonomi dapat dilakukan dengan 2 pendekatan

1. pendekatan Reaktif

Yaitu perancangan program dilakukan untuk memperbaiki kondisi lingkungan kerja yang sudah ada agar lebih ergonomis, sehat dan aman.

2. Pendekatan Pro Aktif

yaitu perancangan program dilakukan untuk membuat kondisi lingkungan kerja yang baru agar lebih ergonomis, sehat dan aman

ref: wells dkk, 2003. Participative Ergonomic Blueprint, www.iwh.on.ca)

Macam-macam Awkward Posture (oleh: noor fitrihana)

Posted on Updated on

Berbagai posisi kerja yang termasuk awkward posture resiko muskuloskeletal yang terjadi dipengaruhi oleh F= Tenaga/Gaya , T=Time/durasi, R= Repetisi. (sumber:OHSCOs)

KELELAHAN KERJA

Posted on

KELELAHAN

oleh: noor fitrihana

Definisi kelelahan :

  • Levy (1990) mengutarakan bahwa kelelahan kerja masih merupakan misteri dunia kedokteran modern, penuh kekaburan dalam sebab musababnya serta pencegahannyapun belum terungkap secara jelas.
  • Rizeddin (2000): kelelahan menurunkan kapasitas kerja dan ketahanan kerja yang ditandai oleh sensasi lelah, motivasi menurun, aktivitas menurun.
  • Keadaan yang ditandai oleh adanya perasaan kelelahan kerja dan penurunan kesiagaan.
  • Keadaan pada saraf sentral sistimik akibat aktivitas yang berkepanjangan dan secara fundamental dikontrol oleh sistim aktivasi dan sistim ihibisi batang otak.
  • Merupakan fanomena komples yang disebabkan oleh faktor biologi pada proses kerja dan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
  • Merupakan kriteria lengkap tidak hanya menyangkut kelelahan fisik dan psikis tetapi lebih banyak kaitannya dengan adanya penurunan kinerja fisik, adanya perasaan lelah, penurunan motivasi, dan penurunan produktivitas kerja.
  • Adalah respon total terhadap stres psikososial yang dialami dalam satu periode waktu tertentu dan cenderung menurunkan motivasi dan prestasi kerja.

Fakta-fakta tentang kelelahan kerja :

  • Setiap hari dijumpai dalam kehidupan kerja lebih dari 65% pasien yang datang ke Poliklinik Perusahaan menderita fatigue
  • Kennedy (1987) : 24% orang dewasa yang datang ke poliklinik menderita kelelahan (USA)
  • Kelelahan kerja diderita oleh :25% tenaga kerja wanita, 20% tenaga kerja laki-laki. (England)
  • Kelelahan kerja memperlambat waktu reaksi, merasa lelah ada penurunan aktivitas dan kesulitan mengambil keputusan disamping gejala lain
  • Kelelahan dapat meningkatkan error operator atau pelanggaran saat kerja. Hal ini merupakan penyebab utama terjadinya kecelakaan.
  • Fokus terhadap sistem kontrol jam kerja yang berlebihan, terutama untuk staf yang berada dalam kerja yang berbahaya harus ditingkatkan. Kelelahan harus diatur seperti halnya bahaya lainnya.
  • Tugas legal atasan untuk mengatur resiko kelelahan, terlepas dari keinginan individual pekerja untuk bekerja lembur.
  • Pihak manajemen dapat mengubah jam kerja yang membutuhkan pengawasan dan beresiko tinggi.

Faktor penyebab kelelahan kerja berkaitan dengan banyak hal yaitu :

  • Penyebab medis : flu, anemia, gangguan tidur, hypothyroidism, hepatitis, TBC, dan penyakit kronis lainnya.
  • Penyebab yang berkaitan dengan gaya hidup : kurang tidur, terlalu banyak tidur, alkohol dan miras, diet yang buruk, kurangnya olahraga, gizi, daya tahan tubuh, circadian rhythm.
  • Penyebab yang berkaitan dengan tempat kerja : kerja shift, pelatihan tempat kerja yang buruk, stress di tempat kerja, pengangguran, workaholics, suhu ruang kerja, penyinaran, kebisingan, monotoni pekerjaan dan kebosanan, beban kerja.
  • Faktor psikologis : depresi, kecemasan dan stress, kesedihan.

Beberapa faktor yang mempengaruhi : intensitas dan durasi kerja fisik dan mental, monotoni, iklim kerja, penerangan, kebisingan, tanggung jawab, kecemasan, konflik-konflik, penyakit keluhan sakit dan nutrisi (ILO, 1983 dan Grandjean, 1985)

Jenis Kelelahan :

  • Proses terjadinya pada otot : kelelahan umum dan otot
  • Waktu terjadinya: akut dan kronis
  • Penyebabnya : factor-faktor nonfisik (psikososial) dan lingkungan fisik

Perubahan Fisiologis Akibat Kelelahan kerja

Mekanisme prinsip tubuh mencakup sistem sirkulasi, sistem pencemaan, sistem otot, sistem saraf dan sistem pemafasan. Kerja fisik yang terus menerus mempengaruhi mekanisme tersebut baik sebagian maupun secara keseluruhan (Setyawati, 1994)

Gejala Kelelahan Kerja

Gilmer(1966) dan Cameron (1973) :

  1. Menurun kesiagaan dan perhatian,
  2. Penurunan dan hambatan persepsi,
  3. Cara berpikir atau perbuatan anti sosial,
  4. Tidak cocok dengan lingkungan.
  5. Depresi, kurang tenaga, dan kehilangan inisiatif,
  6. Gejala umum (sakit kepala, vertigo, gangguan fungsi paru dan jantung, kehilangan nafsu makan, gangguan pencemaan, kecemasan, pembahan tingkah laku, kegelisahan, dan kesukaran tidur

Akibat Kelelahan Kerja

  • Prestasi kerja yang menurun,
  • Fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun,
  • Badan terasa tidak enak,
  • Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute, 1982)

Pengukuran Kelelahan Kerja :

  • Waktu reaksi,
  • Uji ketukjari (fingger-tapping test),
  • Uji flicker fusion.
  • Critical flicker fusion,
  • Uji Bourdon Wiersma,
  • Skala kelelahan IFRC (Industrial Fatique Rating Committe),
  • Skala fatique rating (FR Scale),
  • Ekskresi katekolamin,
  • Stroop test,
  • Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2)

Indikator pengukuran kelelahan kerja : waktu reaksi dan rasa lelah

PENANGGULANGAN KELELAHAN KERJA

  1. Lingkungan kerja bebas dari zat berbahaya, penerangan memadai, sesuai dengan jenis pekerjaan yang dihadapi, maupun pengaturan udara yang adekuat, bebas dari kebisingan, getaran, serta ketidaknyamanan.
  2. Waktu kerja diselingi istirahat pendek dan istirahat untuk makan.
  3. Kesehatan umum dijaga dan dimonitor.
  4. Pemberian gizi kerja yang memadai sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja.
  5. Beban kerja berat tidak berlangsung terlalu lama.
  6. Tempat tinggal diusahakan sedekat mungkin dengan tempat kerja, kalau perlu bagi tenaga kerja dengan tempat tinggal jauh diusahakan transportasi dari perusahaan.
  7. Pembinaan mental secara teratur dan berkala dalam rangka stabilitas kerja dan kehidupannya.
  8. Disediakaan fasilitas rekreasi, waktu rekreasi dan istirahat diolaksankan secara baik.
  9. Cuti dan liburan diselenggarakan sebaik-baiknya.
  10. Diberikan perhatian khusus pada kelompok tertentu seperti tenaga kerja beda usia, wanita hamil dan menyusui, tenaga kerja dengan kerja gilir di malam hari, tenaga baru pindahan .
  11. Mengusahakan tenaga kerja bebas alkohol dan obat berbahaya.

sumber: dr. Lintje S