Ergonomi Kerja

Antropometri

Posted on Updated on

Antropometri

oleh:noor fitrihana

Antropometri merupakan bagian dari ilmu ergonomi yang berhubungan dengan dimensi tubuh manusia yang meliputi bentuk, ukuran dan kekuatan dan penerapannya untuk kebutuhan perancangan fasilitas aktivitas manusia. Data antropometri sangat diperlukan untuk perancangan peralatan dan lingkungan kerja. Kenyamanan menggunakan alat bergantung pada kesesuaian ukuran alat dengan ukuran manusia. Jika tidak sesuai, maka dalam jangka waktu tertentu akan mengakibatkan stress tubuh antara lain dapat berupa lelah, nyeri, pusing. Rancangan yang mempunyai kompatibilitas tinggi dengan manusia yang memakainya sangat penting untuk mengurangi timbulnya bahaya akibat terjadinya kesalahan kerja akibat adanya kesalahan disain (Liliana dkk, 2007).

Nurmianto (2004) melakukan interpolasi dari data antropometri masyarakat Inggris dan masyarakat Hongkong yang dikemukakan Pheasant(1986) oleh terhadap data orang Indonesia yang dikemukaan oleh sumakmur (1989) dan hsilnya seperti terlihat dalam table berikut ini.

Upaya Mengurangi Resiko Muskuloskeletal

Posted on

Upaya Mengurangi Resiko Muskuloskeletal

oleh: noor Fitrihana

Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan sakit, nyeri, pegal-pegal dan lainnya pada sistem otot (muskuloskeletal) seperti tendon, pembuluh darah, sendi, tulang, syaraf dan lainnya yang disebabkan oleh aktivitas kerja. Keluhan muskuloskeletal sering juga dinamakan MSD (Musculoskeletal Disorder), RSI (Repetitive Strain Injuries), CTD (Cumulative Trauma Disorders) dan RMI (Repetitive Motion Injury). 

Keluhan MSD yang sering timbul pada pekerja industri adalah nyeri punggung, nyeri leher, nyeri pada pergelangan tangan, siku dan kaki. Ada 4 faktor yang dapat meningkatkan timbulnya MSD yaitu posture yang tidak alamiah, tenaga yang berlebihan, pengulangan berkali-kali, dan lamanya waktu kerja (OHSCOs, 2007). Level MSD dari yang paling ringan hingga yang berat akan menggangu konsentrasi dalam bekerja, menimbulkan kelelahan dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas.

Untuk itu diperlukan suatu upaya pencegahan dan minimalisasi timbulnya MSD di lingkungan kerja. Pencegahan terhdap MSD akan memperoleh manfaat berupa, penghematan biaya, meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja serta meningkatkan kesehatan, kesejahteraan dna kepuasan kerja karyawan (OHSCOs, 2007).

OHSCOs (2007) memberikan panduan tahapan untuk melakukan program pencegahan MSD di lingkungan kerjayang meliputi:

  1. Membangun pondasi menuju sukses

Untuk melakukan program pencegahan MSD diperlukan penetapan komitmen oleh manajemen, menentukan tujuan pelaksanaan, sasaran dan ruang lingkup pelaksanaan, membuat aturan dan tanggung jawab pada seluruh lapisan karyawan, membentuk komite pelaksana dan bergabung dengan organisasi kesehatan dan keselamatan kerja.

  1. Mengidentifikasi faktor -faktor yang menimbulkan MSD dan faktor lainnya yang terkait.

Proses identifikasi dilakukan dengan menanyakan kepada pekerja gangaguan MSD yang dialami, menanyakan jenis tugas yang sulit dan menyebabkan ketidaknyamanan, mengevaluasi catatan kecelakaan kerja yang pernah terjadi, mengamati jenis pekerjaan yang membutuhkan waktu yang lama, pengulangan, tenaga dan postur kerja serta menggunakan instrument-instrumen pencegahan MSD

  1. Lakukan evaluasi faktor-faktor yang menyebabkan MSD

Evaluasi faktor-faktor yang telah ditemukan dengan melibatkan pekerja untuk mencari akar masalahnya dan buat kesepakatan untuk melakukan tindakan perbaikan.

  1. Memilih dan melaksanakan program perbaikan untuk pencegahan MSD

Lakukan perubahan metode kerja, menata ulang peralatan dan area kerja untuk mengurangi resiko MSD, Libatkan karyawan untuk memberikan ide-ide agar system kerja menajdi lebih baik dan gunakan ide yang dianggap baik, hati hati memilih solusi yang pertama kali karena solusi tersebut disebut desain yang ergonomis.

  1. Evaluasi kesuksesan penerapannya dan lakukan peningkatan secara berkelanjutan

Tanyakan kepada pekerja apakah perubahan yang dilakukan memberikan dampak yang lebih baik dan memberika rasa nayaman dalam bekerja. Tingkatkan dan ulangi penerapan setelah 3 -6 bulan.

  1. Menyebarluaskan kesuksesan pencegahan MSD

Umumkan hasil yang telah dicapai dan usaha-usaha yang telah dilakukan dalam pencegahan MSD kepada seluruh pekerja dan semua departemen

Evaluasi dan Analisis Resiko Ergonomi

Posted on

Evaluasi dan Analisis Resiko Ergonomi

oleh; Noor Fitrihana

Sebelum memilih program intervensi ergonomi diperlukan proses evaluasi dan alnalisis ergonomi untuk mengidentifikasi permasalahan ergonomi di suatu lingkungan kerja. Evaluasi ergonomi mencakup beberapa hal yang meliputi analisis lingkungan kerja, postur kerja, Jenis tugas/pekerjaan, pengangkatan dan pengangkutan, faktor-faktor resiko bahaya, derajat tingkat resiko bahaya, prioritas/fokus program peningkatan, tindakan koreksi dan lainnya. Evaluasi ergonomi mencakup lingkungan kerja fisik, kimia, biologi maupun faktor ergonomi. Evaluasi ergonomi dimaksudkan untuk mengetahui faktor-faktor potensi tidak aman dan tidak sehat, melakukan koreksi terhadap faktor-faktor yang menyebabkan tidak aman dan tidak sehat, serta menentukan faktor-faktor yang memiliki resiko tinggi sebagai prioritas untuk dilakukan koreksi.

Neuman (2006) menyatakan ada 8 jenis tool yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi ergonomi yaitu.

1. Tool untuk pengambilan keputusan strategis

2. Tool untuk sistem kerja dan desain produk

3. Peralatan uji yang digunakan untuk mengevaluasi lingkungan kerja

4. Tool evaluasi yang berbasis komputer

5. Checklist untuk evaluasi lingkungan kerja

6. Kuesioner untuk mengetahui persepsi faktor-faktor yang menimbulkan resiko

7. Kuesioner untuk mengetahui kesehatan dan kenyamanan

8. Model ekonomi

Kekuatan otot dan keluhan pada otot merupakan salah satu indikator untuk mengevaluasi penerapan ergonomi. Faktor- pekerjaan yang mempengaruhi kekuatan otot dan menimbulkan keluhan otot adalah:

1. Posisi kerja yang tidak alamiah (awkward Posture)

2. Pengulangan pekerjaan pada satu jenis otot

3. Penggunaan tenaga yang berlebihan

4. Posisi kerja yang statis

5. Terjadi kontak bagian tubuh dengan lingkungan ataupun peralatan kerja

6. Metode/cara kerja

7. Jam kerja yang terlalu panjang

Disamping ke tujuh faktor tersebut diatas faktor lingkungan kerja fisik seperti paparan kebisingan, suhu, getaran dan pencahayaan yang kurang baik juga akan mempengaruhi timbulnya keluhan pada otot. Selain lingkungan kerja fisik faktor lingkungan kimia, biologi dan psikososial juga sangat mempengaruhi terjadinya keluhan pada otot. Untuk itu dalam melakukan identifikasi dan analisis bahaya perlu mencakup faktor pekerja pekerjaan dan lingkungan kerja seperti terlihat pada gambar 1.

Gambar 1. Interaksi faktor-faktor resiko ergonomic (OSHA, 2004)

Health and Safety Executive (HSE, 2006) memberikan panduan langkah-langkah untuk melakukan analisis bahaya di tempat kerja yang meliputi identifikasi sumber bahaya, menentukan siapa yang kemungkinan terkena tersebut dan bagaiamana bahaya tersebut mengenai mereka, melakukan evaluasi resiko bahaya dan menentukan program pencegahan, mendokumentasikan temuan/solusin dan mengimplementasikannya serta meninjau ulang hasil analisis dan memperbaikinya jika diperlukan.

Ada beberapa prinsip dasar dalam melakukan program ergonomi yaitu

1. Sebagai upaya proaktif untuk pencegahan terjadinya kecelakaan dan gangguan kesehatan

2. Pelaksanaannya didasarkan pada hasil ilmu pengetahuan dan hasil penelitian yang terbaik

3. Bekerjasama dengan pekerja dan departemen terkait

4. Fleksibel dan hindari satu ukuran untuk semua

5. Program yang dilaksanakan harus terjangkau dan sesuai kekuatan sumberdaya yang dimiliki

6. Program yang dilaksanakan harus jelas, singkat dan sederhana

(OSHA, 2004)

Untuk melakukan pengendalian terhadap sumber bahaya ada 3 strategi yang dapat dilakukan meliputi:

1. Pengendalian secara teknis misalnya misalnya terhadap jalur pemindahan material, komponen dan produk, merubah proses atau benda untuk mengurangi paparan bahaya pada pekerja, merubah layout tempat kerja, merekayasa bentuk desain komponen, mesin dan peralatan, memeprbaiki merode kerja dan lainnya

2. Pengendalian secara administratif misalnya dengan memberikan pelatihan kerja, variasi jenis pekerjaan, memberikan pelatihan tentang faktor-faktor bahaya di tempat kerja, melakukan rotasi pekerjaan, mengurangi jam kerja dan mengatur shift kerja, memberikan istirahat yang cukup dan lainnya

3. Menggunakan alat perlindungan diri misalnya masker, sarung tangan, pelindung mesin dan lainnya.

Partisipatori ergonomi

Posted on

Partisipatori ergonomi

oleh: Noor fitrihana

Partisipatori ergonomi merupakan salah satu pendekatan proses yang dilakukan untuk melaksanakan program intervensi ergonomi (Nurmianto, 2008; Purnomo, 2007; Udo dkk, 2006; wells dkk, 2003; St-Vincen, 2001). Partisipatori ergonomi adalah partisipasi aktif dari karyawan pada semua level untuk menerapkan ergonomi program di tempat kerjanya untuk meningkatkan kondisi lingkungan kerjanya. (Norman dan Wells, 1998). Sukapto (2008) menyatakan partisispatori ergonomi memiliki 4 elemen pokok yang saling berinteraksi yang terdiri dari karyawan, pengelola perusahaan, pengetahuan dan metode ergonomi dan konsep disain pekerjaan. Pentingnya melibatkan karyawan pada semua level untuk mencapai kesuksesan dalam intervensi ergonomi adalah

1. Karyawan adalah orang yang paling tahu terhadap pekerjaannya

2. Karyawan akan tahu solusi ergonomi yang paling tepat untuk dirinya agar semakin nyaman dalam bekerja

3. Menjadikan karyawan terlibat dalam proses perubahan

4. Untuk membangun budaya ergonomi yang aman, sehat dan nyaman

Program intervensi ergonomi dimaksudkan untuk mencegah terjadinya resiko kesehatan dan keselamatan kerja, meningkatkan kondisi lingkungan kerja untuk mendorong kesejahteraan karyawan, meningkatkan produktivitas dan kualitas serta mengurangi ketidaknyamanan dan kesalahan manusia (Ercan dan Erdinc, 2006). Wells dkk (2003) menyatakan untuk memulai program ergonomi diperlukan beberapa persiapan yaitu membentuk komitmen dan dukungan dari manajemen, membentuk tim ergonomi dan memberikan pelatihan dasar tentang ergonomi. Lebih lanjut Wells (2003) untuk melaksanakan program ergonomi di sebuah industri diperukan 6 tahapan yaitu:

1. Mengidentifikasi pekerjaan/lokasi yang akan dilakukan perbaikan

2. Melakukan evaluasi ergonomi dan faktor- faktor resiko bahaya dan menentukan prioritas pekerjaan yang akan dilakukan perbaikan.

3. Menentukan solusi pemecahan masalah ergonomi

4. Melakukan ujicoba solusi yang telah dirancang

5. Mengevaluasi hasil penerapan solusi yang telah dirancang

6. Mengimplementasikan solusi

7. Untuk melakukan perbaikan selanjutnya kembali ke langkah 1

Faktor Faktor Yang meningkatkan Resiko Muskuloskeletal

Posted on Updated on

Ada 4 Faktor Yang meningkatkan terjadinya keluhan muskuloskeletal:

1. Tekanan/gaya pada otot yang berlebihan

2. Awkward Posture (postur kerja yang tidak benar)

3. Terjadinya pengulangan-pengulangan pekerjaan pada satu otot

4. Lamanya paparan yang diterima oleh otot

Copy picture from: MSD Prevention ToolBox

Reducing MSD

Awkward body positions

The problem

The key to reducing or eliminating the use of awkward body positions and work postures is to understand why they are being used in the first place. Awkward positions are often the result of the location and orientation of the object being worked on, poor workstation design, product design, tool design, or poor work habits. Several of these causes can be engineered out, eliminating the problem altogether. For example, a worker who bends over to lift objects out of large bins or cardboard boxes must assume an awkward body position. Raising and tilting the bins can easily eliminate the awkward position. Neutral positions are those that the parts of the body naturally assume at rest, placing the least amount of stress on joints and tissues. As muscles, tendons, and ligaments move away from the central portion of their range of motion, they become stretched and vulnerable to injury. As they approach the end of theirrange of motion, they become fully stretched and further motion due to sudden movements or unexpected loads may cause tissue injury. As the angle of a joint increases or decreases past its neutral position, the amount of force that muscles acting on that joint can easilyproduce is reduced because they are no longer in their most favourable positions. To compensate for this mechanicallycaused strength reduction, muscles try todevelop more force and their tendons are placed in even greater tension. This isadded stress that can lead to injury. Less-than-optimal postures such as leaning forward from the waist for extended periods of time, or bending the neck downwards at an exaggerated angle, can load muscles with ‘static work’. Static work involves muscles being tensed in fixed positions and overtime, becoming tired, uncomfortable,and even painful. Production line workers who have to bend their necks and hold them in one position often experience strain in their neck and shoulder muscles. Sedentary work

involving sitting or standing for long periods of time without movement can lead to pain and discomfort in the lower back.

Potential solutions

Awkward body positions and their effects can be reduced by:

§ encouraging frequent changes of position. This avoids becoming “locked” into one position for extended periods of time.

§ avoiding forward and downward bending of the head and upper body. This commonly occurs when tasks, work surfaces, or controls are too low relative to the worker’s standing or sitting position.

§ avoiding having the arms held in a raised position, either in front of the body or out to the sides with the elbows bent. Such positions are often the result of work surfaces or controls being too high relative to the worker’s standing or sitting position.

§ avoiding twisted body positions. Arrange the work and workstation so that twisting is avoided.

§ avoiding positions that require a joint to be used for extended periods of time at the limit of its range of motion e.g. constant reaching behind the back can place considerable strain on the shoulder joint.

§ providing adequate back support in all chairs or seats. Back supports, preferably adjustable ones, improve posture, lessen fatigue, and make sitting for long periods of time more comfortable.

§ optimizing the position of arms and legs. Ensure that the arms and legs are positioned within their most favourable range of motion when muscular force needs to be exerted.

Forceful exertions

The problem

Forceful exertions may overload muscles, tendons, and ligaments. Forceful exertions are commonly used when lifting, pushing, pulling, and reaching. A packer on an assembly line

for example, may often use a highly forceful grip to assemble a lightweight item or lift a box or carton, especially if it is slippery or difficult to grasp. Workers who use tools such as handheld grinders for extended periods of time may be at risk of developing MSIs of the hand because of the amount of force needed to use, hold, and trigger the tools. Awkward wrist and arm positions may also contribute to the problem. Research studies have shown that work tasks should not require the worker to exert more than 30% of their maximum force for a particular muscle in a prolonged or repetitive manner. Any tasks that require the worker to exert a force in excess of 50% of a particular muscle’s strength, including occasional tasks, should be avoided. The closer a loaded muscle is to its strength or range of motion limits, the greater the risk of tissue damage and injury. For a given task, decreasing the required effort or load by as little as 10% allows a worker to perform their work at a constant level five to six times longer than if the effort or load

had not been decreased. The load influences worker tiredness and discomfort much more

than the length of time that the work is performed.

Potential solutions

High muscular forces can be reduced by:

§ reducing the forces required to perform the task e.g. using mechanical aids when lifting and

handling materials, using jigs, vices, and clamps rather than hands to grip parts, keeping sharp edges of tools and equipment sharp, reducing contact forces on switches and controls, lubricating and maintaining tools and equipment.

§ distributing forces e.g. using a larger body part, such as an arm rather than a finger, to deliver the force.

§ establishing better mechanical advantage e.g. with larger, better positioned tools, with levers, or by involving larger muscle groups.

Repetition

The problem

Repetitive movements eventually wear the body down. Without sufficient time to recover between repetitions, muscles become tired and may cramp. Other muscles try to help but they may also become tired, cramp, and become injured. How quickly this happens depends on how often a repetitive motion is performed, how quickly it is performed, and for how long the repetitive work continues. Repetitive work is more of a problem when it is combined with awkward body positions and forceful exertions. A worker who packages a small product day after day or who uses a stapler or power nailer to assemble wooden frames are examples of workers performing repetitive work.

Potential solutions

Worker exposure to repetitive work and its effects can be reduced through:

§ automation of the task or portions of the task . Machines are particularly effective at performing repetitive tasks.

§ job rotation. This breaks up a worker’s exposure to a particular repetitive movement. It is extremely important that the new task involve different movements and muscle groups.

§ job diversity. Training workers to perform a series of properly selected jobs rather than the same, simple one repetitively reduces monotony, boredom, and the potential for injury. Jobs with greater diversity often provide workers with a sense of accomplishment.

§ job enrichment. Workers are given responsibility for a wider range of duties that require a variety of skills and qualifications. As examples, these duties may include work planning, inspection activities, or customer contacts.

§ frequent breaks. Frequent, short breaks from work activities provide workers an opportunity to recover from their activities by stretching, changing body positions, or relaxing hard-working muscles.

Other biomechanical risk factors

Compression and impact stress

Tissues can become compressed when they come into contact with the edges of workbenches, tool handles, machine corners, and poorly designed seating. Forces are concentrated on small areas of tissue, resulting in high localized pressure. This pressure can compress nerves, blood vessels, tendons, and other soft tissues, resulting in damage and injury. Using the hand or knee as a hammer is a form of external tissue compression known as impact stress. Hand hammering can damage one of the arteries that passes through the wrist and palm, eventually affecting the function of the thumb. Using the knee as a hammer can cause “carpet layer’s knee”, an inflammation of the tissues of the knee.

Hand-arm vibration

Hand-arm vibration is vibration transmitted to the arms through the hands. It can damage both the small blood vessels and small nerves of the fingers, resulting in two specific injuries: vibration-induced white finger and vibratory neuropathy. Together, these injuries are known as the hand-arm vibration syndrome (HAVS) and result in numbness, loss of finger coordination and dexterity, clumsiness, and an inability to perform fine motor tasks. lanching or loss of colour in the skin usually starts at the tips of the fingers but progresses as exposure time increases. The most important sources of vibration due to tools include grinders, sanders, drills, impact wrenches, jackhammers, riveting and chipping hammers, and chain saws. Sources of vibration having accelerations greater than 2.5 m/s2 are associated with increased rates of injury.While there is substantial evidence that whole body vibration is associated with lower back and neck injuries, identifying practical ways for employers to determine whether vehicles or other equipment produce hazardous exposures is difficult. Operators of off-road vehicles are likely to have the most hazardous exposures, depending on how long they work and the quality of the vehicle’s suspension system, shock absorbers, seats, and tires. Unlike hand tools and hand-arm vibration, there are no specific whole body vibration acceleration values available for vehicle models or other equipment.

Copy paste from: Chapter 3 Musculoskeletal disorder, OSH

MEMPERBAIKI KONDISI KERJA DI INDUSTRI GARMEN

Posted on Updated on

 

by:Noor Fitrihana  

 PENDAHULUAN           

Produk garmen merupakan salah satu komoditi yang sangat potensial untuk dikembangkan di pasar global. Beny Sutrisno(2007)  ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia mengungkapkan bahwa kebutuhan produk tekstil dan pakaian jadi (garmen) akan terus meningkat dari tahun ketahun.

Mengingat potensi pasar yang demikian besar maka persaingan produk garmen di pasar duniapun sangat ketat. Eksportir terbesar produk garmen ke pasar dunia berturut-turut adalah: negara-negara yang tergabung dalam uni eropa, china, hongkong, Turki, Mexico, India, Amerika, Romania dan Indonesia. Untuk itu negara-negara eksportir garmen dituntut untuk memiliki produktifitas, kualitas, dan daya saing yang tinggi.

           

Proses pembuatan garmen dimulai dari pengecekan kain di ruang penyimpanan kain kemudian proses disain dan pembuatan pola, grading dan marker, kemudian dilanjutkan ke proses pembuatan sample dan pemotongan kemudian dilakukan proses pengepresan. Setelah bagian-bagian yang terpotong tadi dipres maka dilanjutkan ke proses produksi  (penjahitan). Proses penjahitan ini dilakukan per piece (bagian) sehingga untuk menjahit satu kemeja  terkadang bisa mencapai 100 variasi proses penjahitan. Oleh karena iti produksi garmen dikenal dengan proses piece to piece. Setelah dijahit maka dilanjutkan proses penyempurnaan/penyelesaian akhir, seperti pemasangan kancing, label, pembersihan dan penyetrikaan dan kemudian dilakukan pengepakan dan pengiriman ke konsumen             Karakteristik pekerjaan di industri garmem umumnya adalah  proses material handling (angkat-angkut), posisi kerja duduk dan berdiri, membutuhkan ketelitian cukup tinggi,  tingkat pengulangan kerja tinggi pada satu jenis otot, bertinteraksi dengan benda tajam seperti jarum, gunting dan pisau potong, terjadi paparan panas di bagian pengepresan dan penyetrikaan dan banyaknya debu-debu serat dan aroma khas kain, terpaan kebisingan, getaran, panas dari mesin jahit dan lainnya. Untuk itu desain tempat kerja di industri garmen akan sangat berpengaruh bagi kinerja karyawan. Oleh karena itu  dalam paper ini penulis akan melakukan tinjauan permasalan dan solusi ergonomis untuk memperbaiki kondisi kerja di industri garmen.

EVALUASI ERGONOMI KONDISI KERJA DI INDUSTRI GARMEN           

  Studi tentang kondisi kerja di Industri garmen telah cukup banyak dilakukan (Harrison, Tanpa tahun) yaitu:

  1. Penelitian yang dilakukan Vilma 1982 dan Wesgard 1992 melaporkan bahwa operator jahit mengalami gangguan otot yang cukup serius
  2. Penelitian yang dilakukan Punnet (1985) melporjan bahwa sejumalh tenaga kerja garmen mengalami sakit persitent
  3. Penelitian Brisson (1989) menyakan bahaw pekerja garmen meningktakan  gangguan kesehatan kronis dan  ketiadakmampuan secara permanen
  4. Posisi duduk dan tubuh yang tidak baik menimbulkan sakit dan menurunkan produiktifitas
  5. Peningkatan MSD dapat dikurangi dengan kursi yang dapat diatur dan perubahan stasiun kerja (Li 1995 dan Herbert 1997)

             Permasalahan ergonomi kerja di industri garmen terutama sangat terkait dengan posisi postur tubuh  dan pergelangan tangan yang tidak baik dan harus melakukan pekerjaan yang berulang-ulang pada hanya satu jenis otot  sehingga sangat berpotensi menimbulkan  cumulative trauma disorder (CTD)/ Repetitive Strain Injuries  (RSI) (Work Safe bulletin:1997 dan FoCUS:1999). Zvonko Gradcevic dkk (2002) mengungkapkan bahwa operasi  kerja di bagian penjahitan adalah dari tangan-mesin-tangan dan   sub operasi mesin berdasarkan  cara kerja dan bagian (piece) yang dijahit menurut struktur produk garmennya. Pekerjaan di bagian jahit membutuhkan kordinasi gerakan postur tubuh dan pergelangan tangan yang baik dan  konsentrasi tinggi. Dimana perubahan gerakan ini berlangsung sangat cepat tergantung bagian yang dijahit dan tingginya frekuensi pengulangan gerakan untuk kurun waktu yang lama akan mendorong timbulnya gangguan  interabdominal, mengalami tekanan inersia,  tekanan pada pinggang dan tulang punggung dan tengkuk.Hong Kong Christian Industrial Committee (2004) melaporkan kondisi Lingkungan kerja di 3 industri  garmen China yang mensuplai produk garmen untuk retail di Jerman adalah sebagai berikut  antara pemilik pabrik dan pekerja kurang memiliki kesadaran tentang keselamatan dan kesehatan kerja. Di ketiga pabrik yang disurvey tidak pernah diadakan latihan untuk penaggulangan kebakaran, para pekerja mengeluhkan kondisi AC (air Condition) dan ventilasi yang tidak baik Penempatan mesin yang terlalu rapat sehingga mengakibatkan peningkatkan suhu di tempat kerja. Para pekerja di bagian penjahitan mengalami alergi kulit dan gangguan pernapasan akibat menjahit beberapa jenis kain yang mempunyai banyak debu kain (floating fiber). Sumber bahaya lain adalah permasalahan ergonomi seperti lamanya waktu kerja (duduk dan berdiri) pengulangan gerakan kerja dan lainnya. Cvetko Z. Trajković, Dragan M. Djordjević, (1999) juga menunjukkan sumber-sumber bahaya potensial yang ada di industri garmen terdapat pada  ruang pemotongan, penjahitan dan finishing.             Kondisi industri garmen di Kamboja (ww.betterfactory.com) juga tidak jauh berbeda seperti dimana ada beberapa permasalahan lingkungan kerja mencakup aspek mekanis, fisik, kimia, biologi dan erghonomi diantaranya adalah:

1.      Penataan tumpukan kain yang kurang baik di gudang penyimpanan sehingga gulungan kain mudah jatuh

2.      Potensi sakit punggung karena mengangkat dan material handling yang tidak benar

3.       Banyaknya debu debu kain di area pemotongan kain

4.      Bahaya luka yang seri selama penggunaan mesin potong elektrik tanpa pengaman rantai  yang baik

5.       Tidak adanya pengamanan mesin dan debu kain di area produksi dan finishing

6.      Bahaya zat kimia dan lantai licin pada area pencucian

7.      Pencahayaan yang kurang baik di bagian produksi dan finishing

8.      permasalahan ergonomi pada posisi kerja duduk dan berdiri

9.      Temperatur yang tinggi pada bagian penyetrikaan dan pencucian

10.  Problem kelistrikan dan kebakaran di seluruh bagian           

Setiap pekerjaan mengandung resiko kesehatan dan keselamtan. Demikian juga sistem kerja di industri garmen potensi penyakit dan kecelakaan kerja juga sangat tinggi. Seperti yang dilaporkan oleh David Mahone (CNA Insurance Companies, Chicago IL) diantara penyakit kerja yang terkaiat dengan kondisi lingkungan kerja yang tidak baik diantaranya adalah

-         70% operator jahit mengalami sakit punggung

-         35% Melaporkan mengalami low back pain secara persisten

-         25% menderi akibat Cumulative Trauma Disorder (CTD)

-         81%  mengalami CTD pada pergelangan tangan

-         14%  mengalami  CTDs pada siku

-         5%  of CTDs pada bahu

-         49% pekerja mengalami nyeri leher  

 Sedangkan berdasarkan studi literatur yang dilakukan oleh S Calvin dan  B Joseph (2006) menyatakan bahwa beberapa  potensi bahaya di industri garmen meliputi kecelakaan pada jari tangan (tertusuk jarum), terbakar dan lainnya. Bahaya fisik seperti paparan kebisingan, panas dan pencahayaan dan lainnya.  Sangat sedikit laporan tentang kecelakaan kerja di industri garmen dari berbagai belahan dunia karena kurangnya kesadaran untuk mencatat dan melaporkan terjadinya kecelakaan  David Mahone menyatakan bahwa untuk mengatasi berbagai persoalaan kondisi kerja seperti  potensi timbulnya  penyakit akibat kerja, operasi pekerjaan, jam kerja, psikososial, organisaisi kerja dan hubungannya antara manusia (pekerja), mesin/alat, pekerjaan dan lingkungan kerjanya maka diperlukan pendekatan ergonomi. Kondisi lingkungan yang ergonomis dapat meningkatkan produktivitas dan keselamatan kerja serta mendorong peningkatan daya saing, mengurangi biaya kompensasi untuk pekerja, memberikan daya tahan yang tinggi pada pekerja dan beberapa keuntugan lainnya. Untuk itu bagian selanjutnya dari tulisan ini akan membahs tentang bagaimana memperbaiki kondisi keraj di Industri garmen. 

 MEMPERBAIKI KONDISI  KERJA DI INDUSTRI GARMEN MELALUI PENDEKATAN ERGONOMI          

   Jenifer Gunning (2001) banyak cara yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja di industri garmen yang meliputi:

  1. Komunikasi
  2. Melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan
  3. Pendidikan dan pelatihan bagi pekerja dan manajemen tentang strategi pencegahan dan peningkatan lingkungan kerja yang ergonomic.

Lebih lanjut Jenifer Gunning dkk mengungkapkan 5 prinsip dasar dalam bekerja secara ergonomis guna mengurangi ganguan otot yaitu

  1. Gunakan alat yang baik dan sesuai dengan pekerjaan dan pekerja
  2. Meminimkan pengulangan gerakan pada satu jenis otot
  3. Hindari posisi tubuh yang tidak baik
  4. Gunakan teknik angkat-angkut yang benar
  5. Beristirahat secara baik dan benar 

 Sedangkan David Mahone menyatakan untuk meningkatkan kondisi kerja yang ergonomi dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:

  1.  
    1. Melaksankan program ergonomi yang komprehensif
    2. Melakukan redesign stasiun kerja seperti yang direkomendasikan NIOSH
    3. Peningkatan cara Sistem Kerja
    4. Menggunakan peralatan  material handling yang otomatis
    5. Pengembangan Konsep Modular Manufacturing

 Untuk memperbaikai kondisi kerja  industri garmen di India  Parimalam dkk (2006)  merekomendasikan  Meja kerja disarankan dari kayu untuk menghindari bahya elektrik.Kursi kerja sebaiknya diberi pelapis (busa untuk) memberi kenyamanan pada pekerja. Meja dan kursi juga harus dapat diatur ketinggiannya dan sudut sandarannya untuk mengurangi sakit pada bahu dan leher (ww.physorg.com). Untuk pencahayaan Parimalam dkk (2006)  merekomendasikan minimum sebesar 400lux untuk general lighting   dan untuk operator jahit di tambahkan pencahayaan lokal. Sedangkan menurut Industrial  Accident Prevention Assosiation (IAPA,2006) untuk pekerjaan menjahit pencahayaan disarankan sekitar 2000-5000 lux. Untuk mengurangi kebisingan perlu dilakukan pemeliharaan, pelumasan dan penggantian spare part secara rutin. Pekerja yang terpapar bising perlu diberikan pelindung telinga ataupun perlu rotasi setiap 4 jam untuk level kebisingan 90 DB. Untuk mengurangi getaran diperlukan isolator getaran misalnya dengan memasang karpet/karet pada kaki-kaki mesin. Diperlukan pemasangan mesin penghisap untuk menghisdap debu kain dan pekerja diberikan masker untuk melindungi dari debu. Jarak antar mesin 4-5 feet untuk meminimalkan paparan panas pada operator jahit.  Di setiap unit perlu disediakan kotak P3K dan orang yang mampu memberikan perawatan/pertologan darurat.             REFERENSI

Cvetko Z. Trajković, Dragan M. Djordjević, (1999). The Sources Of Dangers And The Character Of Injuries At Work In The Garment Industry. The scientific journal FACTA UNIVERSITATIS Series: Working and Living Environmental Protection Vol. 1, No 4, 1999, pp. 107 – 113. UNIVERSITY OF NIŠ. 

Dipl. Ing Benny Soetrisno (Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia), (2007). Peluang, Hambatan Dan Tantangan Industri TPT Nasional; Iklim & Prospek Bisnis 2007, API: Jakarta 

David Mahone, Ergonomics in the Textile and Apparel Industries, CNA Insurance Companies, Chicago Il.

FoCUS, 1999. A Stitch In Time Garment Worker Take Action In RSI. Published by the MFL Occupational Health Centre • 102 – 275 Broadway • Winnipeg

 

Industrial Accident Prevention Association IAPA (2006). Lighting at Work. Website: http://www.iapa.ca.

Parimalam Paramasivam,( 2006).Ergonomic Intervention To Improve Work Environment In Garmen Manufacture Unit. Indian Journal of Community Medicine Vol 10 Issue 2 Agustus, 2006.ww.ijoem.com

 Robert Harrison MD, MPH Robert Harrison MD, MPH.  Preventing, Musculoskeletal, Disorders in Garment Workers, Practical. Clinical Professor of Medicine Clinical Professor of Medicine University of California, San Francisco University of California, San Francisco 415 885 7580. rharris@itsa itsa.ucsf ucsf.edu

S Calvin dan  B Joseph (2006). Occupation Related Accidents in Selected Garment Industries in Bangalore City, Indian Journal of Community Medicine Vol. 31, No. 3, July – September, 2006.

 Work Safe Buletin No 188. (1997), Ergonomics In The Garment Manufacturing Industry 

http://www.betterfactory.com : Chapter Three: General Workplace Conditions, diakses 2 Juni 2007 

www.physorg.com/news96608587.html. Adjustable chairs reduce shoulder and neck pain in garment workers diakses 2 Juni 2007  

Zvonko Dragcevik dkk (2002), Workload and Standard Time Norm in Garmen Engineering. Journal of Textile and Apparel : Technology and Managemen (JTATM) Volume 2 Issue 2 Spring 2002. NC State University

ANALISIS PERANCANGAN KERJA

Posted on Updated on

ANALISIS  PERANCANGAN KERJA 

Prinsip perancangan kerja manual   pada umumnya :

1.      Menggunakan kekuatan dan keterbatasan tubuh manusia

2.      Pengaturan kondisi temat kerja (lingkungan kerja

3.      Perancangan peralatan dan mesin kerja

Perancangan kerja manual didasarkan pada prinsip pengetahuan gerakan dan ekonomi gerakan yang diperkenalkan oleh Frank. B Gilbret. Ada 17 gerakan dasar dalam perancangan kerja yang disebut Therbligh yang meliputi: 

  1. RE = Reach (menjangkau)
  2. M = Move (Membawa)
  3. G = Grasp (Memegang)
  4. RL = Release (Melepas)
  5. PP = Pre-position (Pengarahan Sementara)
  6. U = Use (Memakai)
  7. A = Assemble (Merakit)
  8. DA = Disassemble (Lepas rakit)
  9. S = Search (Mencari)
  10. SE = Select (Memilih)
  11. P = Position (pengarahan)
  12. I = Inspect (Memeriksa)
  13. PL = Plan (Merencanakan)
  14. UD = Unavoidable delay (Kelambatan yang tak terhindarkan)
  15. AD = Avoidable delay (Kelambatan yang dapat dihindarkan)
  16. R = Rest (Istrirahat)
  17. H = Hold (memegang untuk memakai)

 Sedangkan prinsisp ekonomi gerakan adalah meminimalkan gerakan tubuh pada saat bekerja berdasarkan bahan baku dan peralatan yang digunakan. Serta keterbatasan manusia sendiri. Hal ini sangat terkait dengan tata letak tempat kerja dan peralatan kerja. Dalam perancangan kerja manual perlu dilakukan pengaturan fungsi kerja anggota badan lain seperti kaki atau keseimbangan beban tangan kiri dan kanan. Proses ini biasanya dilakukan dengan menggunakan Peta Kerja tangan Kiri dan kanan.

Keterbatasan manusia dalam bekerja secara manual diukur melalaui:

1.      Penggunaan energi selama bekerja

2.      Kerja Jantung

3.      Tekanan pada punggung

4.      Kemampuan pengangkatan berdasar stndar NIOSH 

Pertimbangan human factor  dalam penataan sistem kerja meliputi

1.      Aspek Fisik Kemampuan pekerja, bebean kerja gerakan kerja dan konsumsi energy tubuh manusia

2.      Sosio PsikologisKesesuaian sifat pekerja dengan lingkungan kerja dan pekerjaaannya. 

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GERAKAN DASAR: Jarak, berat beban, penggunaan penglihatan dan ketelitian.            

  FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS

1. Human Factor 

  • Kemampuan kerja
  • Motivasi Kerja

2. Faktor  Teknologi : meliputi

  • Size and capacity of plant

  • Product design and standardization

  • Timely supply of materials and fuel

  • Rationalization and automation measures

  • Repairs and maintenance

  • Production planning and control

  • Plant layout and location

  • Materials handling system

  • Inspection and quality control

  • Machinery and equipment used

  • Research and development

  •  Inventory control

3. Managerial factors: kompetensi manager

4. Faktor Alam : iklim, geografis dll

5. Faktor Sosisologi: budayapekerja, sikap kerja, etnis

6. Faktor politik: hukum, stbilitas pemerintahan

7. faktor ekonomi : Pasar, fasilitas kredit, transportasi dan komunikasil dll             

PERANCANGAN KERJA DAN ANALISIS OPERASI

Faktor-Faktor yang mempengaruhi perancangan kerja 

     a. Analisis Pekerjaan     

 b. Analisis Pekerja    

  c. Analisis Lingkungan kera     

 d. Analisis Ergonomi     

e. Analisis teknolologi dan otomasi

elemen analisis pekerjaan:

  •    Description of tasks to be performed

  • Task sequence

  • Function of tasks

  •  Frequency of tasks

  •  Criticality of tasks

  • Relationship with other jobs/tasks

  •   Performance requirements

  •  Information requirements

  • Control requirements

  • Error possibilities

  • Tasks duration(s)

  • Equipment requirements

 Elemen analisis pekerja:

  • Capability requirements

  •  Performance requirements

  • Evaluation

  •    Skill level

  • Job training

  • Physical requirements

  • Mental stress

  • Boredom

  • Motivation

  •   Number of workers

  • Level of responsibility

  •  Monitoring level

  • Quality responsibility

  •  Empowerment level

 Elemen analisis lingkungan

  •   Workplace location

  •  Process location

  •  Temperature and humidity

  • Lighting

  • Ventilation

  • Safety

  • Logistics

  • Space requirements

  •  Noise

  • Vibration

 Dalam analisis operasi kerja digunakan alat bantu

  1. Peta Kerja

- peta Kerja keseluruha

  1. Peta proses opersi
  2. Peta aliran proses
  3. Peta kelompok kerja
  4. Diagram aliran
  5.  peta Kerja setempat
  6.  Peta pekerja dan mesin-
  7. Peta tangan Kiri dan kanan

2.   Daftar periksa (CHEKLIST)

o       Berhubungan dengan operasi kerja

o       Berhubungan dengan pemeriksaan

o       Berhubungan dengan transportasi

o       Berhubungan dengan menunggu dan penyimpanan

o       Berhubungan dengan perkakas dan perlengkapan

o       Berhubungan dengan mesino       Berhubungan dengan pekerja

o       Berhubungan dengan lingkungan kerja

3. Tujuh alat bantu perbaikan kerja

o       Histogram

o       Lembar Periksa

o       Diagram pareto

o       Diagram sebab akibat

o       Grafiko       peta kendali

o       Digram pencar

4. Tujuh alat bantu baru untuk perbaikan kerja

o Digaram hubungan

o Diagram afinitas

o Diagram sistematis/pohon

o Diagram matrik

o Metode matrix data analisis

o Metode PDPC (Process Decission Program Chart method)

o Metode diagram panah