Panduan K3

PENGARUH HEAT STRESS PADA MANUSIA

Posted on

T

PENGARUH  HEAT STRESS  PADA MANUSIA

oleh:noor fitrihaNA

Tekanan/terpaan panas yang mengenai tubuh manusia dapat mengakibatkan berbagai permasalahan kesehatan hingga kematian. Pada musim panas tahun 95 100 penduduk chicago meninggal karena gelombang panas di musim panas. Penelitian lain di Amerika menunjukkan terjadi 400 kematian setiap tahun yang diakibatkan oleh tekanan panas (Tom P. Moreau dan Michael Daater, 2005). Dari tahun 1995 hingga 2001 di Amerika juga tercatat ada 21 pemain sepakbola muda meninggal terkena akibat heatstroke (Michael F. Bergeron,, 2005). Di Jepang dari tahun 2001-2003 dilaporkan 483 ornag tidak masuk kerja selama lebih dari 4 hari karena penyakit akibat panas. Dari 483 tersebut 63 orang meninggal. (Yoshi-ichiro KAMIJO and Hiroshi NOSE, 2006).

Kematian tersebut diakibatkan oleh berbagai penyakit yang diakibatkan oleh terpaan panas pada tubuh. Berbagai penyakit tersebut meliputi:

  1. Heat rash merupakan gejala awal dari yang berpotensi menimbulkan penyakit akibat tekanan panas. Penyakit ini berkaitan dengan panas, kondisi lembab dimana keringat tidak mampu menguap dari kulit dan pakaian. Penyakit ini mungkin terjadi pada sebgaian kecil area kulit atau bagian tubuh. Meskipun telah diobati pada area yang sakit produksi keringat tidak akan kembali normal untuk 4 sampai 6 minggu.
  2. Heat syncope adalah ganggunan induksi panas yang lebih serius. Ciri dari gangguan ini adalah pening dan pingsan akibat berada dalam lingkungan panas pada waktu yang cukup lama.
  3. Heat cramp gejala dari penyakit ini adalah rasa nyeri dan kejang pada kakai, tangan dan abdomen dan banyak mengeluarkan keringat. Hal ini disebabkan karena ketidakseimbangan cairan dan garam selama melakukan kerja fisik yang berat di lingkungan yang panas
  4. Heat exhaustion diakibatkan oleh berkurangnya cairan tubuh atau volume darah. Kondisi ini terjadi jika jumalah air yang dikeluarkan seperti keringat melebihi dari air yang diminum selama terkena panas. Gejalanya adalah keringat sangat banyak, kulit pucat, lemah, pening, mual, pernapasan pendek dan cepat, pusing dan pingsan. Suhu tubuh antara (37°C - 40°C)
  5. Heat stroke adalah penyakit gangguan panas yang mengancam nyawa yang terkait dengan pekerjaan pada kondisi sangat panas dan lembab. Penyakit ini dapat menyebabkan koma dan kematian. Gejala dari penyakit ini adalah detak jantung cepat, suhu tubuh tinggi 40o C atau lebih, panas, kulit kering dan tampak kebiruan atau kemerahan, Tidak ada keringat di tubuh korban, pening, menggigil, muak, pusing, kebingungan mental da pingsan.
  6. Multiorgan-dysfunction syndrome Continuum adalah rangkaian sindrom/gangguan yang terjadi pada lebih dari satu/ sebagian anggota tubuh akibat heat stroke, trauma dan lainnya.

Penyakit lain yang bias timbul adalah penyakit jantung, tekanan darah tinggi, gangguan ginjal dan gangguan psikiatri. (Climate Change and Health Office Safe Environments Programme Health Canada, 2006)

Umur

Core Body temperatur

oF/oC

0-3 month

3-6 month.

0,5- 1 year

1 – 3 year

3 – 5 year

5 – 9 year

9 –13 year

> 13 year

99.4 oF / 37.40 oC

99.5 oF / 37.5 oC

99.7 oF / 37.6 oC

99.0 oF / 37.2 oC

98.6 oF / 37.0 oC

98.3 oF / 36.8 oC

98.0 oF / 36.6 oC

97.8 – 99.1 oF / 36.5 – 37.2 oC

Penyakit akibat terpaan panas ini diakibatkan karena naik/turunnya suhu tubuh. Suhu normal tubuh berkisar anatara 37-38oC (99 – 100oF) (NCDOOL, 2001). Perubahan suhu inti tubuh naik/turun 2 oC dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh. Berikut ini adalah temperatur normal tubuh manusia dari berbagai usia.

Suhu tubuh harus dijaga agar tetap berada pada suhu normal agar seluruh organ tubuh dapat bekerja dengan normal. Jika terjadi perubahan core temperature tubuh maka beberapa fungsi organ tubuh akan terganggu. Sistem metabolisme tubuh secara alami dapat bereakasi untuk menjaga kenormalan suhu tubuh seperti denagn keluarnya keringat, menggigil dan meningkatkan/mengurangi aliran darah pada tubuh. Untuk pengaturan suhu tubuh secara eksternal ada 7 faktor yang harus dikontrol yaitu: suhu udara, kelembapan, kecepatan udara, pakaian, aktivitas fisik, radiasi panas dari berbagai sumber panas dan lamanya waktu terpaan panas. Berikut adalah keadaan manusia pada berbagai variasi suhu tubuh:

Kondisi panas

  • 37°C (98.6°F) – Suhu tubuh normal (36-37.5°C /96.8-99.5°F)
  • 38°C (100.4°F) – berkeringat,, sangat tidak nyaman, sedikit lapar
  • 39°C (102.2°F) – berkeringat, kulit merah dan basah, napas dan jantung bedenyut kencang, kelelahan, merangsang kambuhnya epilepsi
  • 40°C (104°F) -Pingsang, dehidrasi, lemahn, sakitkepala, muntah, pening dan berkeringat
  • 41°C (105.8°F) – Keadaan gawat. Pingsan, pening, bingung sakit kepala, halusinasi, , napas sesak, mengantuk mata kabur, , jantung berdebar
  • 42°C (107.6°F) – pucat kulit memerah dan basah, koma, mata gelap, muntah dan terjadi gangguan hebat. tekanan darah menjadi tingg/rendah dan detak jantung cepat.
  • 43°C (109.4°F) – Ummumnya meninggal, kerusakan otak, gangguan dan goncangan hebat terus menerus, fungsi pernapasan kolaps.
  • 44°C (111.2°F) or more – Hampir dipastikan meninggal namun ada beberapa pasien yang mampu bertahan hingg diatas 46°C (114.8°F).

Kondisi Dingin

  • 37°C (98.6°F) – Suhu tubuh normal (36-37.5°C /96.8-99.5°F)
  • 36°C (96.8°F) – Menggigil ringan hingga sedang
  • 35°C (95.0°F) – (Hipotermia suhu kurang dari 35°C (95.0°F) – menggigil keras, kulit menjadi biru/keabuan. Jantung menjadi berdegup.
  • 34°C (93.2°F) – Mengggil yang sanagat keras, jari kaku, kebiruan dan bingung.terjadi perubahan perilaku
  • 33°C (91.4°F) – Bingung sedang hingga parah, mengantuk, dpresi, berhenti menggigil, denyut jantung lemah, napas pendek dan tidak mamapu merespon rangsangan.
  • 32°C (89.6°F) – (kondisi gawat Halusinasi, gangguan hebat, sanagat bingung, tidur yang dalam dan menuju koma, detak jantung rendah , tidak menggigil.
  • 31°C (87.8°F) – Comatose, tidak sadar, tidak memiliki reflex, sjantung dnagat lamabatTerjadi gangguan iarama jantung yangs serius.
  • 28°C (82.4°F) – Jantung berhenti berdetak pasien menuju kematian
  • 24-26°C (75.2-78.8°F) or less – Terjadi kematian namun beberapa pasien ada yang mampu bertahan hidup hinggan dibawah 24-26°C (75.2-78.8°F)

(www.bookrag.com)

Terpaan panas pada tubuh pertama kali diterima oleh lapisan kulit pada tubuh. Sehingga efek terbesar proses terpaan panas terajdi pada kulit. Jika kulit diterpa panas pada suhu tertentu dalam waktu tertentu maka selaian akan berakibat pada terjadinya heat strain pada tubuh juga matinya/kerusakan sel-sel tubuh. Dengan matinya sel-sel tubuh t maka akan menyebabkan terjadinya gangguan pada panca indera manusia, regnerasi sel terhambat dan akhirnya terjadi proses penuaan lebih cepat seiring kurang otimalnya fungsi organ tubuh.

PENTINGNYA DIKLAT K3

Posted on Updated on

 By: noor fitrihana

A.    PENGANTAR

Orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Berdasar teori kebutuhan Maslow maka kebutuhan karyawan Dalam perusahaan diterjemahkan sebagai berikut:

·        Kebutuhan fisiologis dasar:  gaji, makanan, pakaian, perumahan dan fasilitas-fasilitas dasar lainnya yang berguna untuk kelangsungan hidup pekerja

·        Kebutuhan akan rasa aman: lingkungan kerja yang bebas dari segala bentuk ancaman, keamanan jabatan/posisi, status kerja yang jelas, keamanan alat yang dipergunakan.

·        Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi: interaksi dengan rekan kerja,  kebebasan melakukan aktivitas sosial, kesempatan yang diberikan untuk menjalin hubungan yang akrab dengan orang lain

·        Kebutuhan untuk dihargai: pemberian penghargaan atau reward, mengakui hasil karya individu

·        Kebutuhan aktualisasi diri: kesempatan dan kebebasan untuk merealisasikan cita-cita atau harapan individu, kebebasan untuk mengembangkan bakat atau talenta yang dimiliki. 

            Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka karyawan  harus berprestasi dan berperilaku yang baik. Prestasi & perilaku karyawan dipengaruhi oleh :

 1.     Faktor demografi : usia, asal usul, sex, latar belakang keluarga, tingkat sosial, pengalaman, kemampuan & keterampilan

2.     Persepsi, sikap kerja, kepribadian, belajar, motivasi

3.     Faktor organisasi : sumberdaya, kepemimpinan, imbalan, striktur disain pekerjaan Agar karyawan mampu berperilaku  dan berprestasi baik diperlukan dukungan lingkungan kerja yang aman dari berbagai resiko dan penyakit kerja. Oleh karena itu asepk K3 sangat penting untuk diuperhatikan. Peningkatan kesadaran tentang K3 akan berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan. Salah satu cara  untuk merubah perilaku dan meningkatkan prestasi karyawan pada bidang tertentu adalah melalui program diklat baik melalui jalur formal, informal maupun nonformal.  Demikian halnya untuk meningkatkan kesadaran tentang K3  sangat diperlukan program Diklat K3 

A.    MAKSUD DAN TUJUAN DIKLAT K3 

Maksud diadakannya Diklat K3 adalah untuk menjamin semua pihak yang ada dalam resiko untuk mengetahui secara memadai tentang :

·       Operation tempat kerja

·       Resiko di tempat kerja

·       Upaya bila terjadi Penyakit Akibat Kerja / kecelakaan kerja

·       Kegiatan berkesinambungan pencegahan kecelakaan kerja 

Tujuan umum : Diklat K3 untuk meningkatkan pengetahuan, pengertian, pengalaman dan  keterampilan baik fisik maupun psikis tentang K3

Tujuan khusus:

1.     Setiap orang penuh kesadaran akan bahaya yg dapat dijumpai mereka ditempat kerja / potensial berbahaya / adanya kemungkinan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja & kecelakaan kerja

2.     Membentuk sikap waspada terhadap kejadian / bahaya ditempat kerja

3.     Berusaha mencegah bahaya yg ada / akan ada ditempat kerja

4.     Pelatihan menerangkan akan resiko yg harus dicegah, menunjukkan kepadanya agar mereka dapat secara otomatis melaksanakan pekerjaan secara aman

C. SASARAN DIKLAT K3

Sasaran Diklat K3 ditujukan untuk:

  1.  Dokter perusahaan
  2. Perawat perusahaan
  3. Manager perusahaan
  4.  P2 K3 & Pekerja
  5.  Teknisi perusahaan
  6. Tenaga profesional lain
  7.   Pegawai baru / pindahan /induction
  8. Untuk pekerjaan/pekerja
  9.  Untuk supervisor
  10. Untuk safety advisors
  11. Untuk safety representatif/dewan K3
  12. Dan mereka yang berhubungan dengan tempat dan  peralatan kerja  

D. MATERI DIKLAT K3  

Materi umum yang diberikan dalam Diklat K3

1.     HS policy

2.     Organisasi

3.     Pengaturan HS training

4.     Hazards

5.     Kerawanan kecelakaan yg harus dihindari

6.     APD & safety equipment

7.     HS rules & procedure

8.     Prosedur pelaporan kecelakaan

9.     Prosedur evakuasi pada pembonan teroris & kebakaran

10.  PPPK Materi khusus disesuaikan/dikaitkan  dengan jenis pekerjaan/industri, lingkungan kerja dan perallatan kerjanya.

  E. RUANG LINGKUP DAN SIFAT  PELAYANAN K3 

Ruang lingkup  pelayanan K3 meliputi: Pengujian, pemeriksaan, pengukuran terhadap aspek lingkungan kerja, sarana kerja, prosedur kerja, & pelatihan tenaga kerja.

Sifat pelayanan:       

1. Atas permintaan perusahaan

               2. Berdasar fungsi & tugas bagian K3 

F.               FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN KERJA YANG BERPENGARUH TERHADAP K3 

Faktor-Faktor Lingkungan kerja yang berpengaruh terhadap K3 meliputi

 1.     Faktor, bising, debu & penerangan

2.     Faktor kimia, konsentrasi kimia di tempat kerja, emisi cerobong di dalam industri, kualitas air limbah

3.     Kesehatan pekerja baik awal periodik, maupun khusus

4.     Kontrol teknologi yg mencakup design & implementasi ditempat tenaga kerja

5.     Pemeriksaan kelelahan& pelatihan    

 G. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM DIKLAT K3                                   

 Mengingat  bahwa program diklat pada  dasarnya diselenggarakan sebagai sarana untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi  gap (kesenjangan) antara kompetensi yang ada saat ini dengan kompetensi  standard atau yang diharapkan untuk dilakukan oleh seseorang dan agar program pelatihan yang dirancang tidak hanya akan berlangsung sukses di ruang kelas atau tempat pelaksanaan pelatihan semata. Artinya pelaksanaan pelatihan mungkin berjalan dengan sangat baik, tetapi pada saat partisipan (peserta pelatihan) kembali ke tempat kerja masing-masing mereka menjadi tidak tahu atau bingung bagaimana menerapkan apa yang telah mereka pelajari dari pelatihan. Dalam hal ini diperlukan analisis kebutuhan diklat sebagai  alat untuk mengidentifikasi gap-gap yang ada tersebut dan melakukan analisis apakah gap-gap tersebut dapat dikurangi atau dihilangkan melalui suatu program diklaAnalisis kebutuhan pelatihan dilakukan untuk :

·       Memastikan bahwa pelatihan memang merupakan salah satu solusi untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja pegawai dan produktivitas perusahaan

·       Memastikan bahwa para partisipan yang mengikuti pelatihan benar-benar orang-orang yang tepat

 ·       Memastikan bahwa pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan selama pelatihan benar-benar sesuai dengan elemen-elemen kerja yang dituntut dalam suatu jabatan tertentu

·       Mengidentifikasi bahwa jenis pelatihan dan metode yang dipilih sesuai dengan tema atau materi pelatihan

·       Memastikan bahwa penurunan kinerja/kurangnya kompetensi atau pun masalah yang ada adalah disebabkan karena kurangnya pengetahuan, ketrampilan dan sikap-sikap kerja; bukan oleh  alasan-alasan lain yang tidak bisa diselesaikan melalui pelatihan memperhitungkan untung-ruginya melaksanakan pelatihan mengingat bahwa sebuah pelatihan pasti membutuhkan sejumlah dana.(Johanes Popu, http://www.e-psikologi.com,2002)          Menurut Dale Yorder  yang dikutip oleh Moh. Asad (1987) ,agar program pelatihan dan pengembangan dapat berhasil baik maka harus diperhatikan delapan faktor sebagai berikut :

1. Individual differences         Sebuah program diklat akan berhasil jika  kita memperhatikan individual diference para peserta diklat.  Perbedaan individu meliputi faktor fisik maupun psikis. Oleh karena  itu dalam perencanaan program diklat harus memperhatikan faktor fisik seperti bentuk dan komposisi tubuh, dan fisik, kemampuan panca indera maupun faktor psikis seperti intelegensi, bakat, minat , kepribadian, motivasi , pendidikan  para peserta diklat. Keberhasilan program diklat sangat ditentukan oleh pemahaman karakteristik peserta diklat terkait dengan individual difference.

 2. Relation to Job analisis         Untuk memberikan program diklat terlebih dahulu harus diketahui keahlian yang dibutuhkan. Dengan demikian program diklat dapat diarahkan atau ditujukan untuk mencapai keahlian tersebut. Suatu program diklat yang tidak disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja pada keahlian tertentu akan merugikan semua pihak baik masyarakat , industri maupun lembaga penyelenggara diklat itu sendiri.

3. Motivation         Motivasi adalah suatu usaha menimbulkan dorongan untuk melakukan tugas. Sehubungan dengan itu ,program diklat  sebaiknya dibuat sedemikian rupa gara dapat menimbulkan motivasi bagi peserta. Penumbuhan motivasi itu sangat pentng sehingga mampu mendoromng peserta untuk mengikuti program diklat dengan baik dan mampu memberikan harapan lebih baik dibidang pekerjaan setelah berhasil menyelesaikan program diklat .

4. Active participation         Didalam pelaksanaan program diklat harus diupayakan keaktifan peserta didalam setiap materi yang diajarkan. Pemilihan Materi dan strategi pembelajaran yang tepat oleh para trainer sangat menentukan keberhasilan. Pemberian umpan balik kepada peserta  pada setiap komunikasi maupun evaluasi akan semakin mengembangkan motivasi dan pengetahuan yang diperoleh. Penyusunan materi(kurikulum) yang berbasis kompetensi maupun berbasis luas dengan pengembangan aspek kecakapan hidup peserta menjadi kekuatan untuk menarik perhatian dan minat peserta diklat.

5. Selection of trainess         Program diklat sebaiknya ditujukan kepada mereka yang berminat dan menunjukkan bakat untuk dpat mengikuti program diklat. Oleh karena ini sangan pentingan dilakukan proses seleksi untuk pelaksanaan program dilakukan. Berbagai macam tes seleksi dapat dilakukan misalnya  test potensi akademik. Disampin itu adanya seleksi juga merupakan faktor perangsang untuk meningkatkan image peserta maupun penyelenggara diklat.

6. Selection of trainer         Pemilihan pemateri/pengajar untuk penyampaian materi diklat harus disesuaikan dengan kualifikasi yang dibutuhkan dan kemampuan mengajar. Seorang trainer yang cakap belum tentu dapat berhasil menyampaikan kepandaiannya kepada orang lain. Oleh karena itu pengajar program diklat haru memiliki kualifikasi dalam bidang pengajaran dan mampu memilih strategi pembelajaran yang tepat dengan memeprhatikan individual difference peserta diklat.

7. Trainer training            Kompetensi trainer juga perlu ditingkatakan. Untuk itu mengingat trainer menjadi ujung btombak dalam keberhasilan program diklat maka sebelum mengemban tanggung jawab untuk memberkan pelatihan maka para trainer harus diberikan pendidikan sebagai pelatih.

8. Training methods         Metode yang digunakan dalam program diklat harus sesuai dengan jenis diklat yang diberikan. Strategi pembelajaran menadi senjata utama dalam keberhasilan program diklat. 

H. Dokumen Training       

   Dokumen training harus disimpan dengan baik dalam jangka waktu 3 tahun. Data-data tersebut meliputi

  1. Date of training Sessions
  2. Contents or summary
  3. Name & qualifications of persons conducting training sessions
  4. Name & job titles of all persons attending the sessions
  5. Dokumentasi training (Foto dan materi training)

EFEK GETARAN PADA TUBUH MANUSIA

Posted on Updated on

EFEK GETARAN BAGI TUBUH MANUSIA  

  1. PENDAHULUAN

Berdasar Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 49 Tahun 1996 yang dimaksud getaran  adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Penyebab getaran dibedakan dalam 2 jenis yaitu:

 

  1. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia.

  2. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia.

 

Getaran yang terjadi di lingkungan dapat berdampak pada kehidupan manusia. Dalam SK Menteri Lingkungan Hidup no 49  tahun 1996 ditetapkan tingkat baku getaran berdasar tingkat kenyamanan dan kesehatan dalam kategori menganggu, tidak nyaman dan menyakitkan. Baku tingkat getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dari usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. Baku tingkat getaran  untuk kenyamanan dan kesehatan ditetapkan sebagai berikut:

Tabel. 1 Tingkat baku getaran untuk kenyamanan dan kesehatan          

            Peraturan tentang baku mutu getaran pada tingkat internasional tertuang dalam ISO 2631 yang ditetapkan pertama kali pada tahun 1974.  Seri ISO 2631 ada 3 yaitu: 

·         ISO 2631-1:1985 Evaluation of human exposure to whole-body vibration – Part 1: General requirements. Direvisi dengan ISO 2631 -1-1997

·         ISO 2631-2:1989 Evaluation of human exposure to whole-body vibration – Part 2: Continuous and shock-induced vibrations in buildings (1 to 80 Hz)

·         ISO 2631-3:1985 Evaluation of human exposure to whole-body vibration – Part 3: Evaluation of exposure to whole-body z-axis vertical vibration in the frequency range 0,1 to 0,63 Hz

Nilai baku getar berdsar ISO 2631 -1-1997 berdasar tingkat kenyamanan adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Baku mutu getaran ISO 2631

           
 

            Sedangkan berdasar standar nasional Irlandia utara No 397 tahun 2005 syarat baku mutu getaran  adalah sebagai berikut

Untuk getaran pada tangan

-          Limit value adalah 5 m/det2  A(8)

-          Action value adalah 2,5 m/det2 A(8)

Untuk getaran pada seluruh tubuh

-          limit value 1,15 m/det2 A(8)

-          Action Value 0,5 m/det2  A(8

Disamping ISO 2631 Seri ISO lainnya yang terkait dengan getaran adalah:

1. Human exposure to vibration and shock

ISO 5349:1986 Mechanical vibration – Guidelines for the measurement and the assessment of human exposure to hand-transmitted vibration

ISO 5982:1981 Vibration and shock – Mechanical driving point impedance of the human body

ISO 6897:1984 Guidelines for the evaluation of the response of occupants of fixed structures, especially buildings and off-shore structures, to lowfrequency horizontal motion (0,063 to 1 Hz)

ISO 7962:1987 Mechanical vibration and shock – Mechanical transmissibility of the human body in the z direction

ISO 8041:1990 1) Human response to vibration – Measuring instrumentation Vibration in relation to vehicles

ISO 2671:1982 Environmental tests for aircraft equipment – Part 3.4: Acoustic vibration

ISO 3046-5:1978 Reciprocating internal combustion engines – Performance – Part 5: Torsional vibrations

ISO 4548-7:1990 Methods of test for full-flow lubricating oil filters for internal combustion engines – Part 7: Vibration fatigue test

ISO 4867:1984 Code for the measurement and reporting of shipboard vibration data

 2. Mechanical vibration and shock

ISO 4868:1984 Code for the measurement and reporting of local vibration data of ship structures and equipment

ISO 5007:1990 Agricultural wheeled tractors – Operator’s seat – Laboratory measurement of transmitted vibration

ISO 5008:1979 Agricultural wheeled tractors and field machinery – Measurement of whole-body vibration of the operator

ISO 6954:1984 Mechanical vibration and shock – Guidelines for the overall evaluation of vibration in merchant ships

ISO 7096:1994 Earth-moving machinery – Laboratory evaluation of operator seat vibration

ISO 8002:1986 Mechanical vibrations – Land vehicles – Method for reporting measured data

ISO 10326-1:1992 Mechanical vibration – Laboratory method for evaluating vehicle seat vibration – Part 1: Basic requirements

3. Vibration in relation to specific equipment and machines

ISO 6267:1980 Alpine skis – Measurement of bending vibrations

ISO 7505:1986 Forestry machinery – Chain saws – Measurement of handtransmitted vibration

ISO 7916:1989 Forestry machinery – Portable brush-saws – Measurement of handtransmitted vibration

ISO 8579-2:1993 Acceptance code for gears – Part 2: Determination of mechanical vibrations of gear units during acceptance testing

ISO 8662-1:1988 Hand-held portable power tools – Measurement of vibrations at the handle – Part 1 : General

ISO 8662-2:1992 Hand-held portable power tools – Measurement of vibrations at the handle – Part 2: Chipping hammers and riveting hammers

ISO 8662-3:1992 Hand-held portable power tools – Measurement of vibrations at the handle – Part 3: Rock drills and rotary hammers

ISO 8662-4:1994 Hand-held portable power tools – Measurement of vibrations at the handle – Part 4: Grinders

ISO 8662-5:1992 Hand-held portable power tools – Measurement of vibrations at the handle – Part 5: Pavement breakers and hammers for construction Work

ISO 8662-6:1994 Hand-held portable power tools – Measurement of vibrations at the handle – Part 6: Impact drills

4. Vibration in relation to buildings

ISO 4866:1990 Mechanical vibration and shock – Vibration of buildings – Guidelines for the measurement of vibrations and evaluation of their effects on Buildings

ISO 4866:1990 /Amd.1:1994 Amendment 1:1994 to ISO 4866:1990

ISO 8569:1989 Mechanical vibration – Shock-and-vibration-sensitive electronic equipment – Methods of measurement and reporting data of shock and vibration effects in buildings

ISO 10137:1992 Bases for design of structures – Serviceability of buildings against vibration

 

Jika getaran yang mengenai tubuh manusia melebihi ambang batas ataupun tubuh manusia terkena getaran tertentu secara berulang-ulang dalam waktu yang lama akan menimbulkan berbagai dampak negatif. Getaran yang mengenai tubuh dapat bersumber dari permukaan yang bergetar, peralatan kerja, permesinan, alat transportasi, alam dan sumber lainnya. Pada penjelasan berikut akan dijelaskan efek getaran pada tubuh manusia.

 B. EFEK GETARAN PADA TUBUH MANUSIA

         Getaran yang menerpa tubuh manusia dibedakan dalam 2 jenis

1.      Getaran mengenai  sebagian anggota tubuh misalnya tangan/kaki

2.      Getaran mengenai seluruh anggota tubuh (whole Body Vibration)

 

            Sumber getaran yang menerpa pada tubuh manusia disamping bersumber dari alam (gempa)  pada umumnya berasal dari peralatan/mesin kerja kerja dan kendaran yang digunakan oleh manusia. Hasil survey yang dilakukan oleh Palmer dkk (2000) disamapaikan percepatan getaran dari berebagai kendaran dan peralatan kerja yang ada di Great Britain seperti terlihat pada tabel 3 berikut:

 Tabel. 3 Percepatan  getaran pada berapa peralatan dan kendaraan 
 

                                                      Palmer dkk (2000)

   Tabel 2. Percepatan getaran pada beberapa peralatan tangan

                 Efek getaran akan semakin meningkat jika frekuensi getaran dari sumber getaran sama dengan frequensi alami dari bagian tubuh mnusia. Frekuensi alami dari tubuh manusia dapat dilihat pada gambar berikut:      
 

                             Gambar.1  Frekuensi alami beberapa bagian tubuh manusia.            Dari beberapa penelitian efek dari getaran akan berdampak secara akut (dalam waktu singkat) maupun kronis (dalam waktu yang lama).1.      Gejala akut dari efek getarana.       Pusingb.      Tidak nyamanc.       Nyeri dadad.      Muale.       Hilang keseimbanganf.       Perubahan suarag.      Nafas pendekh.      Tidak bisa bekerja secara presisi2.      Gejala kronisa.       Perubahan struktur tulang belakangb.      Herniac.       Gangguan pada sistem gastrointestinald.      Gangguan reproduksi pada wanitae.       Dan lainnya C. METODE PENGUKURAN GETARAN PADA TUBUH MANUSIA.      Berdasar standar ISO 2631 pengukuran getaran dilakukan dengan mengukur intensitas percepatan getaran dari 3 sumbu yaitu x,y dan z. seperti terlihat  pada gambar dibawah ini.                                                Gambar 2. sistem 3 sumbu pengukuran getran ISO 2631-1-1997Pada tabel 4 berikut terlihat aplikasi pengukuran getaran dari beberapa kendaraan yang digunakan dilingkungan kehutanan di British Columbia.                                     Untuk  pengukuran estimasi nilai dosis getaran mengikuti formula dalam tabel berikut Tabel parameter penghitungan sinyal waktu getar Untuk sistem penghitungan terpaan getaran sehari-hari berdasar 8 jam kerja menggunkan formula dibawah ini:                   
 

       Beberapa peralatan yang digunakan untuk pengukuran getaran adalah

1)      Alat penangkap getaran (Accelerometer atau seismometer)

2)      Alat ukur atau alat analisis getaran (Vibration meter atau vibration analyzer)

3)      Tapis pita 1/3 oktaf atau pita sempit (Filter 1/3 oktaf atau Narrow Band)

4)      Pencatat tingkat getaran (Level atau X – Y recorder)5)      Alat analisis pengukur tingkat getaran (FFT Analyzer)                   Berikut beberapa gambar/contoh alat pengukur getaran:           
 

                                    (a)                                                                    (b)Gamabar : a. Accelerometer                  b. FFT Analyzer 

Referensi

Grifin M, 1991 Handbook Of Human Vibration, London, Elsevier.

  

Keith T Palmer, 2000. Prevalence and pattern of occupational exposure to whole body vibration in Great Britain: findingsfrom a national survey, http://oem.bmj.com/cgi/content/full/57/4/229

 

Michael Al Bellmann, 2002. Perception Of Whole Body Vibration: From basic experiment to effect of seat and sterring whell vibration on the passenger comfort inside vehicles.  Desertation

 

Raanu Paakonen, 2005,  Prenvention of Vibration.

 

Statutory rules of  Northern Ireland, No. 395-2005 The Control Of Vibration at work regulation

PROMOSI KESEHATAN DI TEMPAT KERJA

Posted on Updated on

Oleh : Noor Fitrihana

A.PENGERTIAN

            Promosi kesehatan adalah ilmu pengetahuan dan seni membantu orang untuk merubah gaya hidup menuju kesehatan optimal. Kesehatan optimal adalah keseimbangan ksehatan  fisik, emosi, social, spiritual dan intelektual.

B. APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK PROMOSI KESEHATAN KEPADA KARYAWAN.

            Ada 4 langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesehatan di perusahaan dan karyawan yaitu

1.      Lebih mengkomunikasikan dengan para karyawan tentang perhatian dan tujuan yang terkait dengan kesehatan

2.       Mengimplementasikan program promosi kesehatan untuk membuat pemahaman di tempat kerja

3.      Membuat komitmen tetap untuk memelihara kesehatan dan kesejahteraan karyawan.

4.      Memulai kegiatan program kesehatan

C. 12 STRATEGY TERBAIK UNTUK PROMOSI KESEHATAN DI TEMPAT KERJA

  1. Implementasi program perubahan gaya hidup karyawan (Berhenti merokok, Program Fitness, Meningkatkan nutrisi, pengurangan stress dll)

  2. Program konsultasi dan penilaian resiko kesehatan di perusahaan

  3. Menunjukkan dukungan manajemen terhadap program promosi kesehatan khususnya membangun pernyataan misi promosi kesehatan perusahaan

  4. Membangun budaya organisasi yang fleksibel, dukungan masyarakat, responsif terhadap kebutuhan karyawan

  5.  Membangun kebijakan perusahaan untuk memelihara area bebas rokok dan minuman keras dan narkoba di tempat kerja

  6. Membentuk komite kesehatan dan keselamatan kerja dan melakukan pertemuan secara reguler.

  7.  Mengawasi efektivitas, biaya, keuntungan dan partisipasi dalam program promosi kesehatan

  8. Promosikan kepedulian perusahaan dengan OSHA dan pangil reghulation OSHA

  9. Tawarkan program pengobatan dan pencegahan penyakit    termasuk pelayanan klinik untuk karyawan dan kelurganya

  10. Tawarkan program pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja dengan target sebagai persyaratan untuk bkerja di swasta dan industri.

  11.  membuat dan memelihara fashilitas promosi kesehatan dengan menghubungkan audit kualitas lingkungan kerja pada interval reguler dan ambil langkah untuk identifikasi alamat area yang bermasalah.

  12.   Komunikasi secara reguler dengan karyawan untuk menghormasti promosi kesehatan 

D. SARAN-SARAN UNTUK PELAKSANAAN PROGRAM PROMOSI1.     

1. Merubah perilaku individu

-         mendorong tempat kerja yang lentur

-         mengatur kesehatan makanan termasuk pertukaran menu

-         Memberikan panduan  perawatan kesehatan tubuh untuk semua karyawan

-         Tentukan liburan dan bulan untuk Fitness/nutrisi

 -         Ambil kebersamaan dalam Kelompok Jalan-jalan untuk karyawan

2.      Lingkungan Kerja fsisk

-         Merubah penjualan makanan ke produk yang rendah lemak

-         Tempatkan pengumunan di tangga atau tempat berjalan

-         Latih karyawan dengan menampilkan tanda merah silang di tempat kerja

-         Membuat dan memelihara papan buletin kesehatan

-         Tampilkan tanda untuk mendorong pengangkatan yang aman, penggunaan sabuk, dan APD

-         Rancang ruangan yang tenang untuk relaxsasi dan meditasi                                                               

 3.      Pengembangan Organisasi dan  Kebijakan

 -         Mengatur tema aktivitas sekitar kesehatan setiap bulan

-         Subsidi keanggotaan klub Fitnes/kesehatan

-         Mengirim secara periodik tip-tip kesehatan via email, flyer, suratkabar, buletin  dll

-         Membuat kompetisi antar departemen untuk jalan santai, penurunan berat badan, jam olahraga dll

-         Menarik keikutsertaan melalaui flyier dan atau buletin/suratkabar

-         Mengatur olimpiade perusahaan untuk mendorong olahraga dan pengembangan tim

.4.      Kolaborasi Masyarakat 

 -         Mengatur pembicara yang berhubungan dengan kesehatan atau group diskusi pada jam makan siang

-         Meminta restauran sekitar untuk  memasak dengan rendah lemak

-         Mendanai  kegiatan masayarakat dan mendorong keikutsertaan karyawan dan keluarganya

-         Mengadakan lomba untuk anak karyawan membuat poster untuk promosi kesehatan

-         Mendanai program sekolah/taman/rekreasi untuk kesehatan

-         Dapatkan pemasok alat kesehatan untuk mendanai Lomba di perusahaan    

E. KUNCI EFEKTIVITAS PROGRAM KESEHATAN DI TEMPAT KERJA

  1. Menunjukkan keterlibatan dan dukungan manajemen pada program kesehatan

  2. melibatkan karyawan dalam tahapan perencanaan program

  3. Tawarkan program pada waktu dan tempat yang menyenagkan bagi karyawan

  4. Berikan insentif

  5.  Membuat tujuan program dan identifikasi kebutuhan kesehatan karyawan

  6. Berikan hadiah terhadap prestasi dan keikutsertaan dalam pencapaian tujuan program

  7.  Meyakinkan karyawan bahawa status kesehatan mereka adalah sangat penting

  8. berikan program yang bervariasi untuk mempertemukan kebutuhan karyawan

  9.  Membuat  lingkungan tempat kerja mendukung usaha perubahan gaya hidup

  10. Membantu karyawan untuk mengerti dampak dari masalah kesehatan 

Job Safety Analysis

Posted on Updated on

job-safety-analysis.doc

File ini berisi panduan peLaksanaan JSA

K3 Policy

Posted on Updated on

hseguidance.pdf

File ini berisi panduan implementasi K3 di Industri kecil