Perpustakaan

Paket pelatihan Otomasi Perpustakaan dengan Program Senayan

Posted on

Materi Diklat Automasi Perpustakaan dengan software SENAYAN (Open Source Software)

No

Materi

Rincian Materi

1.

Pengenalan Softwar Senayan

Perkenalan Software Senayan Instalasi

2.

Praktik Software PSenayan

Setting Sistem

3.

Praktik Software PSenayan

Administrasi data Induk

 

4.

Praktik Software PSenayan

Bibliografi

 

5.

Praktik Software PSenayan

Keanggotaan

 

6.

Praktik Software PSenayan

Sirkulasi (peminjaman dan pengembalian)

 

7

Praktik Software PSenayan

Stock opname

 

8.

Praktik Software PSenayan

Laporan dan OPAC

 

9.

Praktik Software PSenayan

Evaluasi dan Review

Total

 Penawaran ini dilakukan hanya untuk  in House Training

PENAWARAN DIKLAT/PELATIHAN PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Posted on Updated on

PENAWARAN DIKLAT/PELATIHAN
PENGELOLAAN  PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Latar abelakang
Fakta menunjukan bahwa bangsa yang kuat dan berjaya di muka bumi ini, adalah bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini menjadikan pergeseran paradigma kekuatan dan kejayaan suatu negara dari resourced based bergeser ke knowledge based. Implikasi dari pergeseran paradigma tersebut ialah, negara dan bangsa manapun yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi apalagi ditunjang oleh kepemilikan sumber daya alam, maka akan menjadi negara yang kuat dan berjaya dalam hampir semua aspek kehidupan. Persaingan antar negara untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.
Agar dapat bersaing dalam percaturan global dengan bangsa-bangsa lain, Bangsa Indonesia harus mampu mengembangkan kualitas sumber daya manusianya sehingga memiliki kompetensi untuk menguasai, menerapkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi itu demi kesejahteraan umat manusia lainnya. Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki peran sangat strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia. Oleh karena itu harus didukung oleh sarana dan prasarana yang dapat menunjang tujuan pendidikan. Salah satu unit penunjang tersebut adalah perpustakaan.
Tujuan
Setelah mengikuti Diklat peserta mampu bersikap lebih profesional setelah mendapatkan tambahan pengetahuan dan keterampilan, sehingga pengelolaan perpustakaan sekolah menjadi lebih baik.
Peserta
Dalam satu kelas jumlah peserta maksimal 20 orang.
Materi:
1. Manajemen Perpustakaan
• Peserta diajarkan cara mengelola perpustakaan sekolah berdasarkan sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2000
• Peserta dikenalkan dengan UU RI No. 43 Tahun 2007
2. Pembinaan Koleksi Perpustakaan
• Peserta dikenalkan dengan alat bantu seleksi
• Peserta diajarkan cara menghimpun informasi yang dibutuhkan pemakai
• Peserta diberitahu cara pemesanan buku dan cara mengajukan permohonan bantuan buku ke intitusi/donatur
3. Klasifikasi
• Peserta diajarkan cara menggunakan indeks relatif
• Peserta diajarkan cara menggunakan bagan klasifikasi
• Peserta diajarkan cara menggunakan tabel pembantu
• Peserta diajarkan cara menggunakan pedoman tajuk subyek
4. Katalogisasi
• Peserta diajarkan cara menentukan tajuk entry
• Peserta diajarkan cara menentukan kata utama dalam tajuk entry
• Peserta diberitahu berbagai model/tipe katalog
5. Penerapan Teknologi Informasi di Perpustakaan
• Peserta diajarkan cara meng-instal program
• Peserta diajarkan cara input data bibliografi
• Peserta diajarkan cara melakukan verifikasi data bibliografi
• Peserta diajarkan cara meng-edit cantuman
• Peserta diajarkan cara menstansfer data
6. Literasi Informasi
• Peserta diberitahu tentang literasi informasi
• Peserta diberitahu cara mengakses informasi di perpustakaan
7. Promosi Perpustakaan
• Peserta diberitahu siapa saja yang berpotensi sebagai pengguna
• Peserta diberitahu cara menarik potential user menjadi actual user
• Peserta diberitahu cara mempertahankan actual user
8. Minat Baca
• Peserta diberitahu penyebab rendahnya minat baca
• Peserta diberitahu cara membangun minat baca melalui perpustakaan sekolah berdasarkan
9. Karya Tulis Inovasi
• Peserta dibimbing cara membuat karya tulis inovasi dan kreativitas
• Peserta diajarkan cara menggali ide kreatif
• Peserta diajarkan cara menuangkan ide secara logis serta menggunakan bahasa yang baik dan benar.
• Peserta diajarkan cara memilih referensi yang tepat dan beragam
• Peserta diajarkan cara memperoleh referensi
10. Alih Bentuk Dokumen
• Peserta diajarkan cara memindai dokumen
• Peserta diberitahu cara mengelola dokumen digital
Narasumber/Fasilitator
Terdiri dari akademisi dan praktisi yang mempunyai pengalaman dan kemampuan dibidang perpustakaan sekolah.
Jadwal
Hari/Tgl Jam Materi Narasumber
Selasa 08.00 – 10.00 Manajemen Perpustakaan
10.00 – 12.00 Pembinaan Koleksi
12.00 – 13.00 I s t i r a h a t
13.00 – 15.00 Literasi Informasi
Rabu 08.00 – 10.00 Otomasi Perpustakaan I
10.00 – 12.00 Klasifikasi
12.00 – 13.00 I s t i r a h a t
13.00 – 15.00 Katalogisasi
Kamis 08.00 – 10.00 Karya Tulis Inovasi
10.00 – 12.00 Minat Baca
12.00 – 13.00 I s t i r a h a t
13.00 – 15.00 Promosi Perpustakaan
Jum’at 08.00 – 10.00 Alih Bentuk Dokumen

Pengelolaan Terbitan Berseri di Perpustakaan Perguruan Tinggi

Posted on

Pengelolaan Terbitan Berseri

di Perpustakaan Perguruan Tinggi

Wahyudiati, S.Sos.

I. Pendahuluan

Terbitan berseri atau disebut juga dengan terbitan berkala adalah salah satu jenis koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan perguruan tinggi. Pengertian dari terbitan berseri atau terbitan berkala :

v Terbitan yang keluar dalam bagian secara berturut-turut dengan menggunakan nomor urut dan/atau secara kronologi, serta dimaksudkan untuk terbitan dalam waktu yang ditentukan. (Sulistyo-Basuki, 1991).

v Berdasarkan kata ”periodicals” yang diartikan sebagai majalah, terbitan berkala, berisi banyak artikel yang ditulis beberapa orang, diterbitkan oleh lembaga, instansi, yayasan, maupun perkumpulan yang membentuk susunan redaksi sebagai penanggungjawab penerbitan ini dan terbit dalam frekuensi tertentu seperti mingguan, bulanan, dwibulanan, triwulan, maupun semesteran.

(Lasa HS, 1990).

Ciri atau karakteristik yang dimiliki terbitan berseri yang membedakan dengan publikasi atau koleksi perpustakaan yang lainnya adalah:

  1. Dalam satu kali terbit memuat beberapa tulisan yang ditulis oleh beberapa orang dengan topik dan gaya bahasa yang berbeda.
  2. Artikel atau tulisan pada umumnya tidak terlalu panjang sebagaimana pada buku teks.
  3. Menyampaikan berita, peristiwa, penemuan dan ide baru atau sesuatu yang dianggap menarik perhatian masyarakat pada umumnya.
  4. Dikelola oleh sekelompok orang, yang kemudian membentuk perkumpulan, organisasi maupun susunan redaksi.
  5. Merupakan bentuk arsip ilmiah yang diketahui oleh masyarakat umum.
  6. Terbit terus menerus dengan memiliki kala, waktu, frekuensi terbit tertentu.

(Lasa HS, 1994)

Ciri-ciri dari terbitan berseri yang lainnya adalah:

  1. Memiliki judul seri, yang selalu sama pada setiap nomor penerbitan.
  2. Publikasi yang diterbitkan secara berturut-turut, bernomor, bervolume, umumnya berjangka waktu terbit (frekuensi) tertentu.
  3. Isinya terdiri dari artikel-artikel, ada pula yang berartikel tunggal.
  4. Terdapat halaman editor/ redaksi.
  5. Daftar isi merupakan daftar artikel yang dimuat.

II. Jenis-Jenis Koleksi Terbitan Berseri

Terdapat berbagai jenis terbitan berseri, yang antara lain adalah:

  1. Surat Kabar, Harian, Koran. Merupakan terbitan yang berupa lembaran-lembaran yang diterbitkan setiap hari, berisi berita, pengumuman, laporan, pemikiran yang actual, atau hal-hal yang perlu diketahui masyarakat secara cepat.
  2. Majalah. Dibedakan menjadi berbagai macam jenis seperti ilmiah, populer, ilmiah populer, teknis, dan sekunder.
  3. Jurnal. Merupakan terbitan dalam bidang tertentu khususnya ilmiah yang diterbitkan oleh lembaga/badan/instansi/organisasi yang ingin mempublikasikan hasil-hasil penelitiannya.
  4. Terbitan Berseri. Merupakan suatu terbitan yang diterbitkan secara berseri yang dinyatakan dengan angka atau huruf. Bentuk terbitan ini dapat berupa buku, majalah atau prosiding.
  5. Buletin. Biasanya diterbitkan lembaga/badan tertentu untuk memberikan informasi kepada khalayak mengenai kegiatan/program atau pemikiran dari lembaga tersebut.
  6. Pamflet. Biasanya diterbitkan secara insidental dalam satu lembaran informasi yang berisi pemberitahuan, pengumuman, maupun berita.
  7. Ringkasan, Sari Karangan, Abstrak. Merupakan inti dari sebuah artikel atau tulisan atau hasil penelitian yang biasanya dikumpulkan dan disusun secara sistematis berdasarkan bidang tertentu.
  8. Laporan Tahunan dan Laporan Bersejarah. Diterbitkan tahunan yang biasanya berisi tentang perjalanan sebuah instituís/badan atau catatan peristiwa yang terjadi dalam satu tahun, dan biasanya terbatas dalam bidang tertentu.
  9. Leaflet. Merupakan terbitan yang berisi informasi tertentu dan biasanyaberupa lembaran yang dilipat menjadi dua atau tiga lipatan.
  10. Brosur. Merupakan terbitan atau karya cetak pendek yang diterbitkan dalam beberapa halaman saja sesuai dengan kebutuhan.
  11. Warta Singkat. Terbitan suatu instansi, lembaga pada waktu tertentu berisi berita maupun laboran kegiatan secara ringkas. Biasanya diterbitkan hanya dalam beberapa halaman saja.

Dengan adanya perkembangan teknologi informasi saat ini, koleksi terbitan berseri banyak yang diterbitkan dalam bentuk elektronik. Contoh dari hal itu adalah: jurnal elektronik, kliping elektronik, online newspaper dan lain-lainnya. Koleksi elektronik ini bisa diakses melalui internet dari manapun.

III. Pengelolaan Terbitan Berseri

Terbitan berseri memiliki ciri-ciri khusus seperti yang telah disebutkan di atas maka cara pengelolaannya berbeda dengan jenis koleksi perpustakaan lainnya. Penyimpanan koleksi terbitan berseri sebaiknya diletakkan dalam ruangan tersendiri dalam arti tidak dicampur dengan koleksi buku. Adapun langkah- langkah pengelolaan terbitan berseri adalah sebagai berikut:

1. Terbitan berseri tidak diregitrasi pada buku induk, tetapi cukup dengan kartu registrasi (record card atau kardeks). Kardeks disimpan dalam rak tertentu dan disusun menurut abjad.

2. Terbitan berseri diberi tanda stempel kepemilikan dari perpustakaan.

3. Data yang dicatat dari majalah/jurnal antara lain keterangan mengenai judul, ISSN, kala terbit (frekuensinya), penerbit, dan nomor terbitan yang diterima, serta asal perolehannya.

4. Majalah yang baru pertama kali diterima, tetap dikatalog, dengan jumlah perbanyakan sesuai kebutuhan. Katalogisasi majalah cukup dilakukan satu kali untuk setiap judul seri, sedangkan nomor-nomor lanjutan sejak nomor yang pertama kali dikoleksi perpustakaan, cukup dicantumkan pada kartu registrasi.

5. Majalah / jurnal tidak perlu diberi label nomor panggil.

6. Penyusunan koleksi terbitan berseri dalam rak, jika koleksinya tidak terlalu besar cukup menurut abjad judul terbitan berseri tersebut. Selanjutnya di dalam judul itu sendiri, penyusunannya dilakukan menurut volume, nomor, dan tahun terbit majalah tersebut.

7. Terbitan berseri dapat pula dikelompokkan menurut subsektor (subjek luas), lalu pada setiap subsektor majalah disusun lagi menurut abjad judul, dan selanjutnya menurut tahun terbit, volume dan nomor.

8. Rak penyimpanan terbitan berseri harus dipisahkan dari rak koleksi untuk buku.

9. Terbitan berseri yang baru diterima dapat ditempatkan pada rak pameran.

10. Bila suatu judul majalah, nomor-nomor dalam satu volume tertentu sudah lengkap, biasanya dilakukan penjilidan. Banyaknya jumlah/nomor dalam satu jilid ditentukan berdasarkan kemudahan untuk dipakai.

11. Sebelum penjilidan majalah ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu:

v Mengumpulkan nomor-nomor majalah dalam satu volume (tahun

tertentu).

v Memilih iklan-iklan tempelan yang tidak perlu, dan yang informasinya dapat dihilangkan, dengan pertimbangan tanpa merugikan pengguna perpustakaan, maupun perpustakaan itu sendiri.

v Memasukkan daftar isi kumulatif pada bagian depan majalah yang dijilid, dan indeks subjek kumulatif pada bagian belakang majalah yang akan dijilid.

v Daftar isi per nomor majalah biasanya dilepas, bila daftar isi kumulatif telah dibuat/diperoleh.

v Daftar isi tidak boleh dilepas bila tidak ada daftar isi kumulatif.

12. Penjilidan dilakukan untuk menjaga keutuhan nomor dari suatu volume tertentu, dan untuk memudahkan penegakan majalah tersebut di dalam rak penyimpanan.

IV. Pelayanan Terbitan Berseri

Pada umumnya koleksi terbitan berseri dilayankan dengan sistem terbuka tetapi pemakai hanya boleh membaca di dalam perpustakaan, tidak boleh dipinjam dibawa pulang. Pemakai boleh memfotokopi artikel dari jurnal / majalah yang diinginkan. Selain itu pada layanan terbitan berseri ini terdapat juga Layanan Informasi Terpilih. Layanan ini menyajikan informasi-informasi terpilih yang dapat diakses oleh pengguna untuk menemukan informasi yng sesuai dengan kebutuhannya. Perpustakaan dalam hal ini menyajikan koleksi ataupun informasi sekunder yang akan membawa pengguna kepada informasi utama, misalnya dengan menyediakan indeks artikel, indeks majalah yang terpilih dan lain –lain.

V. Penutup

Layanan terbitan berseri adalah salah satu layanan yang harus ada di suatu perpustakaan perguruan tinggi. Hal ini disebabkan informasi yang terkandung di dalam koleksi terbitan berseri lebih mutakhir daripada informasi yang ada di buku. Hasil penelitian dari para peneliti banyak yang dimuat di dalam jurnal-jurnal ilmiah. Informasi dari koleksi terbitan berseri ini banyak dimanfaatkan oleh sivitas akademika perguruan tinggi untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Daftar Pustaka

Lasa HS. 1994. Pengelolaan Terbitan Berkala. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Pengelolaan Terbitan Berseri di Perpustakaan

Posted on Updated on

Pengelolaan Terbitan Berseri di Perpustakaan

Wahyudiati, S.Sos.

I. Pendahuluan

Terbitan berseri atau disebut juga dengan terbitan berkala adalah salah satu jenis koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan perguruan tinggi. Pengertian dari terbitan berseri atau terbitan berkala :

v Terbitan yang keluar dalam bagian secara berturut-turut dengan menggunakan nomor urut dan/atau secara kronologi, serta dimaksudkan untuk terbitan dalam waktu yang ditentukan. (Sulistyo-Basuki, 1991).

v Berdasarkan kata ”periodicals” yang diartikan sebagai majalah, terbitan berkala, berisi banyak artikel yang ditulis beberapa orang, diterbitkan oleh lembaga, instansi, yayasan, maupun perkumpulan yang membentuk susunan redaksi sebagai penanggungjawab penerbitan ini dan terbit dalam frekuensi tertentu seperti mingguan, bulanan, dwibulanan, triwulan, maupun semesteran.

(Lasa HS, 1990).

Ciri atau karakteristik yang dimiliki terbitan berseri yang membedakan dengan publikasi atau koleksi perpustakaan yang lainnya adalah:

  1. Dalam satu kali terbit memuat beberapa tulisan yang ditulis oleh beberapa orang dengan topik dan gaya bahasa yang berbeda.
  2. Artikel atau tulisan pada umumnya tidak terlalu panjang sebagaimana pada buku teks.
  3. Menyampaikan berita, peristiwa, penemuan dan ide baru atau sesuatu yang dianggap menarik perhatian masyarakat pada umumnya.
  4. Dikelola oleh sekelompok orang, yang kemudian membentuk perkumpulan, organisasi maupun susunan redaksi.
  5. Merupakan bentuk arsip ilmiah yang diketahui oleh masyarakat umum.
  6. Terbit terus menerus dengan memiliki kala, waktu, frekuensi terbit tertentu.

(Lasa HS, 1994)

Ciri-ciri dari terbitan berseri yang lainnya adalah:

  1. Memiliki judul seri, yang selalu sama pada setiap nomor penerbitan.
  2. Publikasi yang diterbitkan secara berturut-turut, bernomor, bervolume, umumnya berjangka waktu terbit (frekuensi) tertentu.
  3. Isinya terdiri dari artikel-artikel, ada pula yang berartikel tunggal.
  4. Terdapat halaman editor/ redaksi.
  5. Daftar isi merupakan daftar artikel yang dimuat.

II. Jenis-Jenis Koleksi Terbitan Berseri

Terdapat berbagai jenis terbitan berseri, yang antara lain adalah:

  1. Surat Kabar, Harian, Koran. Merupakan terbitan yang berupa lembaran-lembaran yang diterbitkan setiap hari, berisi berita, pengumuman, laporan, pemikiran yang actual, atau hal-hal yang perlu diketahui masyarakat secara cepat.
  2. Majalah. Dibedakan menjadi berbagai macam jenis seperti ilmiah, populer, ilmiah populer, teknis, dan sekunder.
  3. Jurnal. Merupakan terbitan dalam bidang tertentu khususnya ilmiah yang diterbitkan oleh lembaga/badan/instansi/organisasi yang ingin mempublikasikan hasil-hasil penelitiannya.
  4. Terbitan Berseri. Merupakan suatu terbitan yang diterbitkan secara berseri yang dinyatakan dengan angka atau huruf. Bentuk terbitan ini dapat berupa buku, majalah atau prosiding.
  5. Buletin. Biasanya diterbitkan lembaga/badan tertentu untuk memberikan informasi kepada khalayak mengenai kegiatan/program atau pemikiran dari lembaga tersebut.
  6. Pamflet. Biasanya diterbitkan secara insidental dalam satu lembaran informasi yang berisi pemberitahuan, pengumuman, maupun berita.
  7. Ringkasan, Sari Karangan, Abstrak. Merupakan inti dari sebuah artikel atau tulisan atau hasil penelitian yang biasanya dikumpulkan dan disusun secara sistematis berdasarkan bidang tertentu.
  8. Laporan Tahunan dan Laporan Bersejarah. Diterbitkan tahunan yang biasanya berisi tentang perjalanan sebuah instituís/badan atau catatan peristiwa yang terjadi dalam satu tahun, dan biasanya terbatas dalam bidang tertentu.
  9. Leaflet. Merupakan terbitan yang berisi informasi tertentu dan biasanyaberupa lembaran yang dilipat menjadi dua atau tiga lipatan.
  10. Brosur. Merupakan terbitan atau karya cetak pendek yang diterbitkan dalam beberapa halaman saja sesuai dengan kebutuhan.
  11. Warta Singkat. Terbitan suatu instansi, lembaga pada waktu tertentu berisi berita maupun laboran kegiatan secara ringkas. Biasanya diterbitkan hanya dalam beberapa halaman saja.

Dengan adanya perkembangan teknologi informasi saat ini, koleksi terbitan berseri banyak yang diterbitkan dalam bentuk elektronik. Contoh dari hal itu adalah: jurnal elektronik, kliping elektronik, online newspaper dan lain-lainnya. Koleksi elektronik ini bisa diakses melalui internet dari manapun.

III. Pengelolaan Terbitan Berseri

Terbitan berseri memiliki ciri-ciri khusus seperti yang telah disebutkan di atas maka cara pengelolaannya berbeda dengan jenis koleksi perpustakaan lainnya. Penyimpanan koleksi terbitan berseri sebaiknya diletakkan dalam ruangan tersendiri dalam arti tidak dicampur dengan koleksi buku. Adapun langkah- langkah pengelolaan terbitan berseri adalah sebagai berikut:

1. Terbitan berseri tidak diregitrasi pada buku induk, tetapi cukup dengan kartu registrasi (record card atau kardeks). Kardeks disimpan dalam rak tertentu dan disusun menurut abjad.

2. Terbitan berseri diberi tanda stempel kepemilikan dari perpustakaan.

3. Data yang dicatat dari majalah/jurnal antara lain keterangan mengenai judul, ISSN, kala terbit (frekuensinya), penerbit, dan nomor terbitan yang diterima, serta asal perolehannya.

4. Majalah yang baru pertama kali diterima, tetap dikatalog, dengan jumlah perbanyakan sesuai kebutuhan. Katalogisasi majalah cukup dilakukan satu kali untuk setiap judul seri, sedangkan nomor-nomor lanjutan sejak nomor yang pertama kali dikoleksi perpustakaan, cukup dicantumkan pada kartu registrasi.

5. Majalah / jurnal tidak perlu diberi label nomor panggil.

6. Penyusunan koleksi terbitan berseri dalam rak, jika koleksinya tidak terlalu besar cukup menurut abjad judul terbitan berseri tersebut. Selanjutnya di dalam judul itu sendiri, penyusunannya dilakukan menurut volume, nomor, dan tahun terbit majalah tersebut.

7. Terbitan berseri dapat pula dikelompokkan menurut subsektor (subjek luas), lalu pada setiap subsektor majalah disusun lagi menurut abjad judul, dan selanjutnya menurut tahun terbit, volume dan nomor.

8. Rak penyimpanan terbitan berseri harus dipisahkan dari rak koleksi untuk buku.

9. Terbitan berseri yang baru diterima dapat ditempatkan pada rak pameran.

10. Bila suatu judul majalah, nomor-nomor dalam satu volume tertentu sudah lengkap, biasanya dilakukan penjilidan. Banyaknya jumlah/nomor dalam satu jilid ditentukan berdasarkan kemudahan untuk dipakai.

11. Sebelum penjilidan majalah ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu:

v Mengumpulkan nomor-nomor majalah dalam satu volume (tahun

tertentu).

v Memilih iklan-iklan tempelan yang tidak perlu, dan yang informasinya dapat dihilangkan, dengan pertimbangan tanpa merugikan pengguna perpustakaan, maupun perpustakaan itu sendiri.

v Memasukkan daftar isi kumulatif pada bagian depan majalah yang dijilid, dan indeks subjek kumulatif pada bagian belakang majalah yang akan dijilid.

v Daftar isi per nomor majalah biasanya dilepas, bila daftar isi kumulatif telah dibuat/diperoleh.

v Daftar isi tidak boleh dilepas bila tidak ada daftar isi kumulatif.

12. Penjilidan dilakukan untuk menjaga keutuhan nomor dari suatu volume tertentu, dan untuk memudahkan penegakan majalah tersebut di dalam rak penyimpanan.

IV. Pelayanan Terbitan Berseri

Pada umumnya koleksi terbitan berseri dilayankan dengan sistem terbuka tetapi pemakai hanya boleh membaca di dalam perpustakaan, tidak boleh dipinjam dibawa pulang. Pemakai boleh memfotokopi artikel dari jurnal / majalah yang diinginkan. Selain itu pada layanan terbitan berseri ini terdapat juga Layanan Informasi Terpilih. Layanan ini menyajikan informasi-informasi terpilih yang dapat diakses oleh pengguna untuk menemukan informasi yng sesuai dengan kebutuhannya. Perpustakaan dalam hal ini menyajikan koleksi ataupun informasi sekunder yang akan membawa pengguna kepada informasi utama, misalnya dengan menyediakan indeks artikel, indeks majalah yang terpilih dan lain –lain.

V. Penutup

Layanan terbitan berseri adalah salah satu layanan yang harus ada di suatu perpustakaan perguruan tinggi. Hal ini disebabkan informasi yang terkandung di dalam koleksi terbitan berseri lebih mutakhir daripada informasi yang ada di buku. Hasil penelitian dari para peneliti banyak yang dimuat di dalam jurnal-jurnal ilmiah. Informasi dari koleksi terbitan berseri ini banyak dimanfaatkan oleh sivitas akademika perguruan tinggi untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Daftar Pustaka

Lasa HS. 1994. Pengelolaan Terbitan Berkala. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Pelatihan Pelayanan Prima di Perpustakaan Berbasis Ergonomi dan ISO 9000

Posted on Updated on

Pelatihan Pelayanan Prima di Perpustakaan Berbasis Ergonomi dan ISO 9000

Perpustakaan merupakan salah satu pusat informasi bagi masyarakat umum maupun dunia pendidikan. Memberikan pelayanan prima di perpustakaan menjadi sangat penting. Pelayanan prima tidak hanya cukup dengan kelengkapan koleksi bahan pustaka namun juga termasuk keramahan dan kesigapan petugas perpustakaan/pustakawan untuk melayani pengguna. Disamping itu aspek kenyamanan ruangan, tata ruang, pencahayaan, pengendalian kebisingan dan pemilihan mebelair di perpustakaan sangat mempengaruhi suasana kondusif perpustakaan sebagai ruang publik untuk belajar dan browsing informasi. Oleh karena itu sangat penting bagi para pengelola perpustakaan untuk memahami aplikasi ergonomi dan peyusunan standar pelayanan di perpustakaan untuk meningkatkan kualitas layanan untuk mewujudkan kepuasan pelanggan

B4D3 Consultants menawarkan pelatihan pelayanan prima berbasis ergonomi dan ISO 9000 bagi pengelola perpustakaan

Materi:

1. Manajemen Perpustakaan berbasis ISO 9000

2. Pengertian dan penyusunan satndar  Pelayanan Prima

2. Pengetahuan Ergonomi

3. Ergonomi pada layanan e library

4. Pengaturan ruang perpustakaan yang ergonomis

5. Komunikasi efektif dengan pengguna

Lama Pelatihan 2 hari biaya 6 jUta untuk 20-30 peserta. (tidak termasuk akomodasi dan konsumsi peserta)

Hubungi

B4D3 Consultant (Industry, Education and Management)

Office: Perumahan Mapan Sejahtera No. B4 Gondanglegi, Wedomartani, Ngemplak, Sleman 55584 Yogyakarta Telp:0274 6570695 / 081578704270 email. b4d3consultants@yahoo.com

PENYALAHGUNAAN KOLEKSI PERPUSTAKAAN di PERGURUAN TINGGI

Posted on Updated on

by wahyudiati

Pendahuluan

Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang berada di lingkungan perguruan tinggi yang pada hakikatnya merupakan bagian integral dari suatu perguruan tinggi. Perpustakaan ini bersama-sama dengan unit kerja lainnya dan dengan peran yang berbeda-beda, bertugas membantu perguruan tingginya untuk melaksanakan program Tri Dharma Perguruan Tinggi Tujuan diselenggarakannya perpustakaan perguruan tinggi adalah untuk menunjang terlaksananya program pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di perguruan tinggi atau lazim dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hal ini ditempuh melalui pelayanan informasi yang meliputi lima aspek yaitu: pengumpulan informasi, pengolahan informasi, pemanfaatan informasi, penyebaran informasi, pemeliharaan/pelestarian informasi (Saleh, 1995:17). Untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut perpustakaan perguruan tinggi memiliki koleksi antara lain adalah buku, majalah, laporan hasil penelitian, surat kabar, kaset audio, CD-ROM serta layanan internet. Semua bahan koleksi ini disimpan di perpustakaan dengan tata urutan yang sistematis sehingga mudah dan cepat dalam penemuan kembali informasi. Biasanya pada perpustakaan perguruan tinggi, koleksi perpustakaan dilayankan dengan sistem terbuka kepada pengguna. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kebebasan kepada pengguna untuk memilih bahan pustaka yang diinginkan dan sangat bermanfaat untuk meningkatkan minat baca. Penggunapun akan memiliki alternatif lain seandainya bahan pustaka yang dikehendaki tidak ada, maka ia dapat memilih bahan pustaka yang lain yang sesuai. Namun hal yang sangat disayangkan dari dilaksanakannya sistem layanan terbuka ini adalah timbulnya tindakan penyalahgunaan koleksi perpustakaan oleh pengguna. Hal ini sesuai dengan pendapat Sulistyo-Basuki (1992:41) yang menyatakan bahwa : “Kerusakan fisik seperti dokumen kotor, goresan pada foto dan rekaman, halaman koyak, dan coretan pada dokumen sering terjadi bila unit informasi terbuka untuk umum.” Kerusakan fisik seperti itu adalah salah satu bentuk akibat dari tindakan penyalahgunaan koleksi perpustakaan. Pengertian tindakan penyalahgunaan koleksi adalah bentuk tindakan perusakan dan pemanfaatan yang salah dari koleksi perpustakaan. Tindakan penyalahgunaan koleksi dapat digolongkan menjadi empat macam yaitu : (1) Theft (pencurian), (2) Mutilation (perobekan), (3) Unauthorized borrowing (peminjaman tidak sah), (4) Vandalism (vandalisme). (Obiagwu, 1992:291).

Penyalahgunaan Koleksi di Perpustakaan Perguruan Tinggi oleh Pengguna

Koleksi perpustakaan bisa mengalami kerusakan yang tidak hanya disebabkan oleh alam misalnya sinar matahari langsung dan kelembaban udara , melainkan juga disebabkan oleh manusia. Manusia yang dalam hal ini adalah pengguna perpustakaan dapat menyebabkan kerusakan fisik pada koleksi perpustakaan. Kerusakan fisik koleksi perpustakaan dapat berupa antara lain dokumen kotor, goresan pada foto dan rekaman, halaman robek, dan lain-ain. Bahkan manusia yang tidak bertanggungjawab dapat menyebabkan hilangnya bahan pustaka dari perpustakaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soeatminah (1992:18) yaitu: “Manusia yang tidak bertanggungjawab merupakan perusak yang paling hebat, karena tidak hanya menyebabkan kerusakan tetapi juga hilangnya bahan pustaka.” Pengguna perpustakaan dapat bertindak sebagai lawan atau juga kawan dalam usaha pelestarian bahan pustaka. Sulistyo-Basuki menegaskan bahwa: “Manusia dalam hal ini pemakai perpustakaan dapat merupakan lawan atau juga kawan. Pemakai perpustakaan menjadi kawan bilamana dia membantu pengamanan buku dengan cara menggunakan bahan pustaka secara cermat dan hati-hati. Pengunjung akan menjadi musuh bilamana dia memperlakukan buku dengan kasar, sehingga sobek atau rusak.”(Sulistyo-Basuki, 1991:272). Perpustakaan perguruan tinggi sangat rawan terhadap tindakan penyalahgunaan koleksi. Hal ini disebabkan salah satunya karena perpustakaan perguruan tinggi melayankan koleksinya dengan sistem layanan terbuka. Dalam sistem layanan terbuka ini pengguna dapat secara langsung memilih bahan pustaka yang diinginkan ke rak tempat jajaran koleksi diletakkan. Tindakan penyalahgunaan koleksi dapat digolongkan menjadi empat macam yaitu : (1) Theft (pencurian), (2) Mutilation (perobekan), (3) Unauthorized borrowing (peminjaman tidak sah), (4) Vandalism (vandalisme). (Obiagwu, 1992:291). Berikut ini akan dijelaskan satu persatu dari tindakan penyalahgunaan koleksi. a. Theft (Pencurian) Theft atau pencurian adalah tindakan mengambil bahan pustaka tanpa melalui prosedur yang berlaku di perpustakaan dengan atau tanpa bantuan orang lain. Pencurian bermacam-macam jenisnya, dari pencurian kecil-kecilan sampai yang besar. Bentuk pencurian yang sering terjadi adalah menggunakan kartu perpustakaan curian. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Obiagwu (1992:291) yaitu: “Theft ranges from petty stealing or pilfering to large-scale stealing and burglary. Borrowing through fraudulent means such as using stolen admission/identity cards is also a form of theft.” Dikatakan pencurian manakala koleksi yang tersedia di perpustakaan tidak dapat diketahui keradaannya dikarenakan telah diambil oleh orang yang tidak bertanggungjawab. b. Mutilation (Mutilasi) Mutilasi adalah tindakan perobekan, pemotongan, penghilangan, dari artikel, ilustrasi dari jurnal, majalah, buku, ensiklopedia dan lain-lain tanpa atau dengan menggunakan alat. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Marcel Obiagwu (1992:291) dalam artikelnya Library Abuse in Academic Institutions yaitu :”Mutilation is the excision of articles and illustration from journal, books, encyclopaedias, etc.” c.Unauthorized Borrowing (Peminjaman tidak sah) Unauthorized borrowing (peminjaman tidak sah) adalah kegiatan pengguna yang melanggar ketentuan peminjaman. Tindakan ini meliputi pelanggaran batas waktu pinjam, pelanggaran jumlah koleksi yang dipinjam, membawa pulang bahan pustaka dari perpustakaan tanpa melaporkannya ke petugas/pustakawan, meskipun dengan maksud untuk mengembalikannya dan membawa pulang bahan-bahan yang belum diproses dari bagian pelayanan teknis. Bentuk lain dari peminjaman tidak sah adalah peredaran buku yang tersembunyi di dalam perpustakaan untuk kepentingan tertentu atau pribadi. d. Vandalism (vandalisme) Vandalism (vandalisme) adalah tindakan perusakan bahan pustaka dengan menulisi, mencorat-coret, memberi tanda khusus, membasahi, membakar dan lain-lain (Obiagwu, 1992:292). Mengenalkan virus secara sengaja pada program komputer atau menekan disket database juga termasuk perbuatan vandalis.

 Kerugian Akibat Tindakan Penyalahgunaan Koleksi Perpustakaan

 Penyalahgunaan koleksi dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi perpustakaan. Kerugian dibagi dua yaitu kerugian secara finansial dan kerugian secara sosial. Kerugian secara finansial yaitu kerugian yang dirasakan oleh perpustakaan dalam hal dana yang harus dikeluarkan untuk mengganti koleksi yang rusak, memperbaiki kerugian kertas dan menjaga kualitas bahan pustaka. The UCSD Libraries menyatakan telah memperbaiki lebih dari seribu halaman setiap bulan, dan kebanyakan dirusak secara sengaja atau sebagai akibat dari tindakan mutilasi. (Sumber : http://Orpheus.ucsd.edu/preservation/mutilate.html,2000). Bahkan peringatan yang tegas dinyatakan dalam artikel yang berjudul Vandalism of Library Books tentang besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki koleksi yang rusak. Peringatan itu berbunyi : “Please be aware that a mutilated book or journal may cost anywhere from a few dollars to hundreds to replace.” (Sumber : http://library.sage.edu/webref/what_new/newmain.htm#wnw99g,2000). Kerugian sosial yang dialami oleh perpustakaan karena adanya koleksi yang rusak antara lain adalah berkurangnya kepercayaan atau dapat memberikan suatu citra (image) yang kurang baik terhadap perpustakaan sebagai gudang informasi. Misalnya tindakan mutilasi dapat menimbulkan rasa marah dan frustasi pengguna yang menginginkan suatu artikel di suatu majalah yang ternyata tidak ada karena telah dirobek orang lain. Hal ini sesuai dengan sebuah pernyataan dalam artikel yang berjudul Vandalism of Library Books yaitu: “More frustrating still is actually finding the right volume, turning to the page where the article “should be”, and discovering that someone has torn or cut out the pages.” (Sumber : http://library.sage.edu/webref/what_new/newmain.htm#wnw99g,2000). Pengguna terkadang harus menunggu beberapa hari untuk memperoleh artikel yang diinginkan karena harus menunggu perbaikan majalah oleh pustakawan. Hal ini sesuai dengan pendapat Constantinou (1995:505) yaitu: “Students cannot use the library’s resources to their fullest because they cannot find articles in mutilated journals. They often have to wait for days to get replacement pages through ILL services.”

Bahaya Tindakan Penyalahgunaan Koleksi Tindakan penyalahgunaan koleksi sangat berbahaya karena akan berdampak buruk bagi perpustakaan, antara lain: – Terhalangnya transfer informasi dan ilmu pengetahuan serta kemajuannya. – Terganggunya iklim pendidikan. – Biaya preservasi bahan pustaka yang meningkat. – Mengurangi bahkan menghilangkan keindahan koleksi. – Berdampak sosial pada lingkungan dan diri objek misalnya menularnya kebiasaan melakukan tindakan penyalahgunaan koleksi kepada orang lain, dan lain sebagainya. 

 Tindakan Pencegahan terhadap Tindakan Penyalahgunaan Koleksi di Perpustakaan

Upaya pencegahan terhadap tindakan penyalahgunaan koleksi dapat dilakukan untuk meminimalkan jumlah koleksi yang dirusak. Hal ini bisa dilakukan dengan cara antara lain: a. Mengatur tata ruang layanan koleksi perpustakaan sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan pengguna melakukan tindakan penyalahgunaan koleksi dengan leluasa. b. Menciptakan keadaan perpustakaan yang kondusif baik itu untuk membaca ataupun untuk belajar sehingga menciptakan kenyamanan bagi pengunjung perpustakaan. c. Menyediakan fasilitas mesin fotokopi yang memadai, dengan harga yang terjangkau dan hasil yang memuaskan. d. Menambah jumlah eksemplar koleksi yang banyak dibutuhkan oleh pengguna. e. Menempatkan pengawas (pustakawan) secukupnya di ruang layanan koleksi yang memungkinkan untuk dengan leluasa mengawasi seluruh ruangan dan untuk berpatroli berkeliling ke seluruh ruangan baca koleksi untuk memonitor hal-hal yang tidak diinginkan. f. Memeriksa setiap koleksi yang telah selesai dipinjam oleh pengguna. g. Pemasangan poster-poster yang berisi larangan melakukan tindakan penyalahgunaan koleksi. h. Memberi pengarahan kepada pengguna tentang bahaya dan kerugian akibat tindakan penyalahgunaan koleksi melalui program bimbingan pembaca. i. Memberlakukan sanksi yang tegas bagi pelaku tindakan penyalahgunaan koleksi , dan meminta kepada pengguna jika melihat seseorang melakukan tindakan penyalahgunaan koleksi di perpustakaan untuk segera melaporkan hal itu kepada pustakawan yang terdekat. j. Membekali staf perpustakaan dengan pengetahuan yang cukup mengenai preservasi bahan pustaka. k. Pemasangan sistem keamanan elektronik misalnya penggunaan kamera pengintai untuk memantau kegiatan pengguna di dalam perpustakaan. l. Pemasangan denah dan petunjuk (rambu-rambu) perpustakaan yang memudahkan pengguna dalam mencari informasi.

Daftar Pustaka

Constantinou, Constantia. 1995. Destruction of Knowledge: A Study of Journal Mutilation at a Large University Library. College and Research Libraries.56(6) November (p.497-507). Mutilation of Library Materials. 2000. Tersedia di: http://Orpheus.ucsd.edu/preservation/mutilate.html. Diakses 11/11/00, pukul 15.15 WIB. Obiagwu, Marcel C. 1992. Library Abuse in Academic Institutions : A Comparative Study. Intl. Inform. & Libr. Rev. 24 (p.291-305). Saleh, A.R. 1995. Manajemen Perpustakaan perguruan Tinggi. Jakarta : Universitas Terbuka. Soeatminah. 1992. Perpustakaan Kepustakawanan dan Pustakawan. Yogyakarta: Kanisius. Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. _____________.1992. Teknik dan Jasa Dokumentasi . Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Vandalism of Library Books. 2000. Tersedia di: http://library.sage.edu/webref/what_new/newmain.htm#wnw99g, Diakses 11/11/00, pukul 17.10 WIB.

URGENSI LITERASI INFORMASI SEBAGAI BEKAL KECAKAPAN HIDUP

Posted on Updated on

 by wahyudiati

Pendahuluan           

 Di era informasi saat ini perpustakaan dituntut untuk mampu menyediakan berbagai informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di seluruh bumi dari zaman ke zaman. Bisa dibayangkan jika semua koleksi perpustakaan berupa “hardcopy” maka setiap pengelola dihadapkan pada dilema pilihan  perluasan gedung perpustakaan atau  pemusnahan koleksi. Beruntung era digital telah datang dengan kemajuan teknologi saat ini dokumen-dokumen yang tercetak (hardcopy) dapat dikonversi menjadi document digital (softcopy) demikian juga sebaliknya. Era digitalisasi perpustakaan menuju konsep e-library yang seutuhnya sedang dibangun dan dikembangkan oleh  para pengelola perpustakaan di seluruh belahan dunia. Dengan konsep ini perwujudan perpustakaan yang serba digital, dengan ciri efisien tempat,  kaya informasi  dan koleksi serta menembus batasan ruang dan waktu dimana dapat diakses oleh siapapun dari manapun dan kapanpun dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.              Perpustakaan umumnya dijadikan sebagai salah satu pusat sumber belajar untuk  memperoleh berbagai informasi dan perkembangan ipteks. Dalam salah satu pilar pendidikan dinyatakan bahwa proses pembelajaran harus mampu mengajarkan kepada peserta didik “Learning How To Learn” (belajar bagaimana cara untuk belajar). Menurut Sulipan (2006) belajar bagaimana cara untuk belajar yaitu  mengajarkan cara belajar yang mengarahkan dan mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan memperluas materi secara mandiri melalui diskusi, observasi, studi literatur dan studi dokumentasi (metode inquiry) dan cara belajar yang dapat menumbuhkan dan memupuk motivasi internal peserta didik untuk belajar lebih jauh dan lebih dalam.  Dengan konsep tersebut maka peserta didik akan menjadi aktif belajar untuk menggali dan mencari informasi dari berbagai sumber termasuk salah satunya di perpustakaan. Oleh karena itu pembekalan “literasi informasi” yaitu kemampuan menggali dan menemukan informasi serta  mengolah informasi untuk  kemudian digunakan dalam pengambilan keputusan/kesimpulan menjadi sangat penting bagi peserta didik (mahasiswa) .   

 Literasi Informasi           

Dampak dari perkembangan teknologi informasi yang mengakibatkan ledakan informasi adalah setiap orang dapat menerima informasi apapun dan dari manapun tanpa batas dan filter. Untuk itu setiap orang sangat perlu mengevaluasi informasi yang mereka terima supaya bisa memenuhi kebutuhannya akan informasi. Agar proses pemenuhan kebutuhan akan informasi berhasil dengan sukses, maka sangat perlu seseorang memahami tentang literasi informasi.            Pengertian dari literasi informasi adalah: Information literacy is knowing when and why you need information, where to find it, and how to evaluate, use and communicate it in an ethical manner.” (sumber: http://www.cilip.org.uk/professionalguidance/informationliteracy/definition/). Literasi informasi dapat diartikan sebagai serangkaian keterampilan untuk mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, menyusun, menciptakan, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi kepada orang lain untuk menyelesaikan dan mencari jalan keluar dari suatu masalah.             Penerapan literasi informasi akan dapat dilakukan dengan mudah jika seseorang memiliki keterampilan-keterampilan khusus yang antara lain adalah:

  1. mengenal kebutuhan informasi;
  2. mengetahui cara menguasai gap informasi;
  3. membangun strategi pencarian informasi;
  4. menemukan dan mengakses informasi;
  5. membandingkan dan mengevaluasi informasi;
  6. mengorganisasikan, mengaplikasi, dan mengkomunikasikan informasi;
  7. mensintesis dan menciptakan informasi.

Keterampilan-keterampilan tersebut di atas harus ditunjang dengan keterampilan pokok yang perlu dimiliki mahasiswa yaitu keterampilan dasar tentang pemberdayaan perpustakaan dan pengetahuan serta penggunaan teknologi informasi. Kebutuhan akan literacy informasi mendorong orang untuk mengembangkan teknologi informasi. Teknologi Informasi akan memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir dapat diikuti tanpa batas ruang dan waktu yang dipengaruhi dan tergantung oleh berbagai kebutuhan secara elektronik.  Kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life,  Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika. (Wardiana, W, 2002).Dari waktu ke waktu ketergantungan manusia terhadap teknologi informasi dewasa ini semakin terasa. Banyak orang rela membayar mahal dan menempuh berbagai cara  bahkan sampai mempertaruhkan nyawa hanya  untuk mendapatkan sebuah informasi. Seperti yang diungkapkan Hartono (1990) bahwa informasi ibarat darah yang mengalir di dalam tubuh organisasi sehingga jika suatu system kurang mendapatkan informasi maka akan menjadi luruh, kerdil dan akhirnya mati. Tidak mengherankan jika dewasa ini TI (Teknologi Informasi) berkembang demikian pesat.  Berbagai hardware dan software telah tercipta dan tersedia dengan model dan harga sangat variatif untuk memenuhi kebutuhan informasi yang lengkap, akurat, cepat, tepat, mudah dan murah yang mampu menembus batas ruang dan waktu. Tuntutan penguasaan dan penggunaan TI baik bagi individu maupun organisasi/perusahanan dewasa ini semakin nyata dikarenakan beberapa hal sebagai berikut:1.      Ketatnya persaingan di pasar global sehingga kecepatan memperoleh informasi sangat menentukan dalam mengatur strategi bersaing. 2.      Perubahan pasar yang demikian cepat menuntut penguasaan TI untuk mencermati dan kengantisipasinya. 3.      Perkembangan IPTEKS mutakhir   menuntut penggunaan dan pemanfaatan TI yang semakin optimal. 4.      Tuntutan kemudahan akses untuk membangun relationship dalam pengembangan diri maupun orgnisasi. 5.      TI telah menjadi trend kehidupan di era global.Dari uraian diatas sangat nyata urgensi kemampuan literacy informasi bagi seseorang agar mampu bersaing di era global. Oleh karena itu kemampuan Literacy informasi dimasukkan sebagai  salah satu bekal kecakapan hidup (life skills) yang harus dimiliki peserta didik. Mulyani Sumantri (2004) mengutip pendapat para ahli tentang  definisi  kecakapan hidup di antaranya  adalah:

a.       Life skills are the foundation of our work ethic, our character, and our personal behavior (Penn State, College of Education, 2003).

b.      Kecakapan hidup  adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehinga akhirnya mampu mengatasinya (Tim BBE Depdiknas, 2001: 9).

c.       In essence, lif skills are an “owner’s manual” for the human body. These skills help children learn how to maintain their bodies, grow as individuals, work well with others, make logical decisions, protect themselves when they have to and achieve their goals in life (Kent Davis, 2000).

d.      Life skills include a wide range of knowledge and skill interactions, believed to be essential for adult independent living (Brolin dalam Goodship, 2002:1)

Terdapat banyak sekali rincian dari apa yang disebut dengan bekal kecakapan hidup.  Dalin dan Rust (1996) menyatakan  bahwa the essential skills terdiri dari: (1) communication skills, (2) numeracy skills, (3) information skills, (4) problem solving skills, (5) self management and competitive skills, (6) social dan co-operation skills, (7) physical skills dan (8) work and study skills, serta (9) attitude and values. Pada Curriculum Reform di Hongkong (2002) rincian tersebut disebut dengan: (1) communication, (2) critical thinking, (3) creativity, (4) collaboration, (5) information technology skills, (6) numeracy, (7) problem solving, (8) self management, dan (9) study skills, kemudian ditambah yang bersifat attitude, yaitu: (10) perseverance, (11) respect to others, (12) responsibility, (13) national identity, dan (14) commitment. Korea Selatan membagi life skills menjadi: (1) basic literacy, (2) key skills, (3) citizenship, dan (4) job specific skills (Eun-Soon Baik & Namhee Kim, 2003). Philippines membagi life skills menjadi: (1) self awareness, (2) empathy, (3) effective communication, (4) interpersonal relationship skills, (5) decision making and problem solving skills, (6) creative thinking, (7) critical thinking, (8) dealing/managing/coping with emotions, (9) dealing/managing/coping with stress, dan (10) production (entrepreneurship) skills) (dalam Muchlas Samani, 2004). Sedangkan Tim Broad Based Education Depdiknas  (Tim BBE, 2002)  memilah kecakapan hidup menjadi 4 jenis dengan rincian sebagai berikut :

1. Kecakapan pribadi meliputi :a.  Penghayatan diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebagai anggota masyarakat dan warga negara.b. Menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, untuk menjadikannya sebagai modal dalam manusia yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungannya.c.  Kecakapan menggali dan menemukan informasi.d. Kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan.e.  Kecakapan memecahkan masalah secara kreatif.2. Kecakapan sosial meliputi :a.  Kecakapan komunikasi dengan empati.b. Kecakapan bekerja sama.3. Kecakapan akademik melipui :a.  Kecakapan mengidentifikasi variabel.b. Kecakapan merumuskan hipotesis.c.  Kecakapan melaksanakan penelitian.4. Kecakapan kejuruan  meliputi :a.  Kecakapan dalam melakukan keterampilan nyata untuk membuat, mengolah, memasang, merakit atau memperbaiki barang tertentu.b. Kecakapan dalam melakukan bidang pekerjaan tertentu di masyarakat/industri/perusahaan. Dari berbagai rincian kecakapan hidup di atas kemampuan literacy informasi selalu tersurat di dalamnya. Hal ini berarti bahwa literacy informasi merupakan salah satu keterampilan dasar yang harus dimiliki mahasiswa agar mampu menjawab tantangan dan problematika  kehidupan.  Untuk itu semua elemen yang terlibat di dalam konteks pendidikan dan pembelajaran dari peserta didik, guru, pustakawan dan masyarakat serta stakeholder terkait harus mampu mendorong munculnya kemampuan literasi informasi bagi peserta didik ” Learning How To Learn”  

PENUTUP

Perkembangaun teknologi terus melaju untuk berevolusi maupun merevolusi teknologi sebelumnya. Produk teknologi yang pada suatu masa dianggap canggih, seiring perjalanan waktu menjadi biasa, bahkan tertinggal ketika terjadi (lagi) revolusi teknologi. Perubahan zaman yang demikian dinamis dan sangat cepat hanya bisa diikuti perkembangannya dengan penguasaan literacy informasi yang didukung oleh teknologi informasi. Dengan demikian urgensi pembekalan kemampuan literacy informasi di lingkungan pendidikan utamanya perguruan tinggi menjadi tidak bisa ditunda-tunda lagi sebagai bekal kecakapan hidup bagi mahasiswa