URGENSI LITERASI INFORMASI SEBAGAI BEKAL KECAKAPAN HIDUP

 by wahyudiati

Pendahuluan           

 Di era informasi saat ini perpustakaan dituntut untuk mampu menyediakan berbagai informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di seluruh bumi dari zaman ke zaman. Bisa dibayangkan jika semua koleksi perpustakaan berupa “hardcopy” maka setiap pengelola dihadapkan pada dilema pilihan  perluasan gedung perpustakaan atau  pemusnahan koleksi. Beruntung era digital telah datang dengan kemajuan teknologi saat ini dokumen-dokumen yang tercetak (hardcopy) dapat dikonversi menjadi document digital (softcopy) demikian juga sebaliknya. Era digitalisasi perpustakaan menuju konsep e-library yang seutuhnya sedang dibangun dan dikembangkan oleh  para pengelola perpustakaan di seluruh belahan dunia. Dengan konsep ini perwujudan perpustakaan yang serba digital, dengan ciri efisien tempat,  kaya informasi  dan koleksi serta menembus batasan ruang dan waktu dimana dapat diakses oleh siapapun dari manapun dan kapanpun dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.              Perpustakaan umumnya dijadikan sebagai salah satu pusat sumber belajar untuk  memperoleh berbagai informasi dan perkembangan ipteks. Dalam salah satu pilar pendidikan dinyatakan bahwa proses pembelajaran harus mampu mengajarkan kepada peserta didik “Learning How To Learn” (belajar bagaimana cara untuk belajar). Menurut Sulipan (2006) belajar bagaimana cara untuk belajar yaitu  mengajarkan cara belajar yang mengarahkan dan mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan memperluas materi secara mandiri melalui diskusi, observasi, studi literatur dan studi dokumentasi (metode inquiry) dan cara belajar yang dapat menumbuhkan dan memupuk motivasi internal peserta didik untuk belajar lebih jauh dan lebih dalam.  Dengan konsep tersebut maka peserta didik akan menjadi aktif belajar untuk menggali dan mencari informasi dari berbagai sumber termasuk salah satunya di perpustakaan. Oleh karena itu pembekalan “literasi informasi” yaitu kemampuan menggali dan menemukan informasi serta  mengolah informasi untuk  kemudian digunakan dalam pengambilan keputusan/kesimpulan menjadi sangat penting bagi peserta didik (mahasiswa) .   

 Literasi Informasi           

Dampak dari perkembangan teknologi informasi yang mengakibatkan ledakan informasi adalah setiap orang dapat menerima informasi apapun dan dari manapun tanpa batas dan filter. Untuk itu setiap orang sangat perlu mengevaluasi informasi yang mereka terima supaya bisa memenuhi kebutuhannya akan informasi. Agar proses pemenuhan kebutuhan akan informasi berhasil dengan sukses, maka sangat perlu seseorang memahami tentang literasi informasi.            Pengertian dari literasi informasi adalah: Information literacy is knowing when and why you need information, where to find it, and how to evaluate, use and communicate it in an ethical manner.” (sumber: http://www.cilip.org.uk/professionalguidance/informationliteracy/definition/). Literasi informasi dapat diartikan sebagai serangkaian keterampilan untuk mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, menyusun, menciptakan, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi kepada orang lain untuk menyelesaikan dan mencari jalan keluar dari suatu masalah.             Penerapan literasi informasi akan dapat dilakukan dengan mudah jika seseorang memiliki keterampilan-keterampilan khusus yang antara lain adalah:

  1. mengenal kebutuhan informasi;
  2. mengetahui cara menguasai gap informasi;
  3. membangun strategi pencarian informasi;
  4. menemukan dan mengakses informasi;
  5. membandingkan dan mengevaluasi informasi;
  6. mengorganisasikan, mengaplikasi, dan mengkomunikasikan informasi;
  7. mensintesis dan menciptakan informasi.

Keterampilan-keterampilan tersebut di atas harus ditunjang dengan keterampilan pokok yang perlu dimiliki mahasiswa yaitu keterampilan dasar tentang pemberdayaan perpustakaan dan pengetahuan serta penggunaan teknologi informasi. Kebutuhan akan literacy informasi mendorong orang untuk mengembangkan teknologi informasi. Teknologi Informasi akan memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir dapat diikuti tanpa batas ruang dan waktu yang dipengaruhi dan tergantung oleh berbagai kebutuhan secara elektronik.  Kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life,  Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika. (Wardiana, W, 2002).Dari waktu ke waktu ketergantungan manusia terhadap teknologi informasi dewasa ini semakin terasa. Banyak orang rela membayar mahal dan menempuh berbagai cara  bahkan sampai mempertaruhkan nyawa hanya  untuk mendapatkan sebuah informasi. Seperti yang diungkapkan Hartono (1990) bahwa informasi ibarat darah yang mengalir di dalam tubuh organisasi sehingga jika suatu system kurang mendapatkan informasi maka akan menjadi luruh, kerdil dan akhirnya mati. Tidak mengherankan jika dewasa ini TI (Teknologi Informasi) berkembang demikian pesat.  Berbagai hardware dan software telah tercipta dan tersedia dengan model dan harga sangat variatif untuk memenuhi kebutuhan informasi yang lengkap, akurat, cepat, tepat, mudah dan murah yang mampu menembus batas ruang dan waktu. Tuntutan penguasaan dan penggunaan TI baik bagi individu maupun organisasi/perusahanan dewasa ini semakin nyata dikarenakan beberapa hal sebagai berikut:1.      Ketatnya persaingan di pasar global sehingga kecepatan memperoleh informasi sangat menentukan dalam mengatur strategi bersaing. 2.      Perubahan pasar yang demikian cepat menuntut penguasaan TI untuk mencermati dan kengantisipasinya. 3.      Perkembangan IPTEKS mutakhir   menuntut penggunaan dan pemanfaatan TI yang semakin optimal. 4.      Tuntutan kemudahan akses untuk membangun relationship dalam pengembangan diri maupun orgnisasi. 5.      TI telah menjadi trend kehidupan di era global.Dari uraian diatas sangat nyata urgensi kemampuan literacy informasi bagi seseorang agar mampu bersaing di era global. Oleh karena itu kemampuan Literacy informasi dimasukkan sebagai  salah satu bekal kecakapan hidup (life skills) yang harus dimiliki peserta didik. Mulyani Sumantri (2004) mengutip pendapat para ahli tentang  definisi  kecakapan hidup di antaranya  adalah:

a.       Life skills are the foundation of our work ethic, our character, and our personal behavior (Penn State, College of Education, 2003).

b.      Kecakapan hidup  adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehinga akhirnya mampu mengatasinya (Tim BBE Depdiknas, 2001: 9).

c.       In essence, lif skills are an “owner’s manual” for the human body. These skills help children learn how to maintain their bodies, grow as individuals, work well with others, make logical decisions, protect themselves when they have to and achieve their goals in life (Kent Davis, 2000).

d.      Life skills include a wide range of knowledge and skill interactions, believed to be essential for adult independent living (Brolin dalam Goodship, 2002:1)

Terdapat banyak sekali rincian dari apa yang disebut dengan bekal kecakapan hidup.  Dalin dan Rust (1996) menyatakan  bahwa the essential skills terdiri dari: (1) communication skills, (2) numeracy skills, (3) information skills, (4) problem solving skills, (5) self management and competitive skills, (6) social dan co-operation skills, (7) physical skills dan (8) work and study skills, serta (9) attitude and values. Pada Curriculum Reform di Hongkong (2002) rincian tersebut disebut dengan: (1) communication, (2) critical thinking, (3) creativity, (4) collaboration, (5) information technology skills, (6) numeracy, (7) problem solving, (8) self management, dan (9) study skills, kemudian ditambah yang bersifat attitude, yaitu: (10) perseverance, (11) respect to others, (12) responsibility, (13) national identity, dan (14) commitment. Korea Selatan membagi life skills menjadi: (1) basic literacy, (2) key skills, (3) citizenship, dan (4) job specific skills (Eun-Soon Baik & Namhee Kim, 2003). Philippines membagi life skills menjadi: (1) self awareness, (2) empathy, (3) effective communication, (4) interpersonal relationship skills, (5) decision making and problem solving skills, (6) creative thinking, (7) critical thinking, (8) dealing/managing/coping with emotions, (9) dealing/managing/coping with stress, dan (10) production (entrepreneurship) skills) (dalam Muchlas Samani, 2004). Sedangkan Tim Broad Based Education Depdiknas  (Tim BBE, 2002)  memilah kecakapan hidup menjadi 4 jenis dengan rincian sebagai berikut :

1. Kecakapan pribadi meliputi :a.  Penghayatan diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebagai anggota masyarakat dan warga negara.b. Menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, untuk menjadikannya sebagai modal dalam manusia yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungannya.c.  Kecakapan menggali dan menemukan informasi.d. Kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan.e.  Kecakapan memecahkan masalah secara kreatif.2. Kecakapan sosial meliputi :a.  Kecakapan komunikasi dengan empati.b. Kecakapan bekerja sama.3. Kecakapan akademik melipui :a.  Kecakapan mengidentifikasi variabel.b. Kecakapan merumuskan hipotesis.c.  Kecakapan melaksanakan penelitian.4. Kecakapan kejuruan  meliputi :a.  Kecakapan dalam melakukan keterampilan nyata untuk membuat, mengolah, memasang, merakit atau memperbaiki barang tertentu.b. Kecakapan dalam melakukan bidang pekerjaan tertentu di masyarakat/industri/perusahaan. Dari berbagai rincian kecakapan hidup di atas kemampuan literacy informasi selalu tersurat di dalamnya. Hal ini berarti bahwa literacy informasi merupakan salah satu keterampilan dasar yang harus dimiliki mahasiswa agar mampu menjawab tantangan dan problematika  kehidupan.  Untuk itu semua elemen yang terlibat di dalam konteks pendidikan dan pembelajaran dari peserta didik, guru, pustakawan dan masyarakat serta stakeholder terkait harus mampu mendorong munculnya kemampuan literasi informasi bagi peserta didik ” Learning How To Learn”  

PENUTUP

Perkembangaun teknologi terus melaju untuk berevolusi maupun merevolusi teknologi sebelumnya. Produk teknologi yang pada suatu masa dianggap canggih, seiring perjalanan waktu menjadi biasa, bahkan tertinggal ketika terjadi (lagi) revolusi teknologi. Perubahan zaman yang demikian dinamis dan sangat cepat hanya bisa diikuti perkembangannya dengan penguasaan literacy informasi yang didukung oleh teknologi informasi. Dengan demikian urgensi pembekalan kemampuan literacy informasi di lingkungan pendidikan utamanya perguruan tinggi menjadi tidak bisa ditunda-tunda lagi sebagai bekal kecakapan hidup bagi mahasiswa

One thought on “URGENSI LITERASI INFORMASI SEBAGAI BEKAL KECAKAPAN HIDUP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s